Menuntut ilmu agama adalah hukumnya wajib. Wajib yang dimasud disini adalah sesuai dengan kondisi masing-masing, Contohnya : ketika seseorang laki-laki belum waktunya menikah atau masih kecil maka lelaki tersebut tidak diwajibkan untuk belajar adab berumah tangga, namun jika seorang laki-laki sudah waktunya menikah maka menuntut ilmu adab berumah tangga adalah wajib hukumnya.
Ilmu agama adalah ilmu yang diwajibkan oleh islam selain karena hukumnya haram jika ditinggalkan namun juga memiliki keutamaan yang sangat luar biasa bagi manusia.
1. Termasuk amal jariyah.
Amal jariah adalah amal yang tidak akan pernah terputus pahalanya meski orang tersebut telah meninggal dunia. Ini adalah salah satu amalan besar yang bisa kita dapatkan dengan menuntut ilmu agama.
Menurut bahasa, amal jariyah diartikan sebagai suatu perbuatan yang terpuji. Sedangkan menurut syara’, amal jariyah didefinisikan sebagai memberikan sesuatu yang bernilai manfaat guna tujuan kemaslahatan sebagai salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Pada dasarnya, kebaikan dan keimanan yang dimiliki oleh seseorang tidak hanya dipandang dari sholat maupun ibadah lain yang ia kerjakan, akan tetapi juga dilihat dari bentuk kasih sayang yang ia berikan kepada sesamanya. Salah satunya adalah dengan cara menginfakkan atau menafkahan sebagian harta yang ia miliki di jalan Allah SWT. Misalnya dengan membangun masjid dan sekolah-sekolah, bersedekah bagi mereka yang membutuhkan, mewakafkah Al-Qur’an, dan bentuk kebajikan lainnya.
Allah SWT berfirman :
لَنتَنَالُواْالْبِرَّحَتَّىتُنفِقُواْمِمَّاتُحِبُّونَوَمَاتُنفِقُواْمِن شَيْءٍفَإِنَّاللّهَ بِهِعَلِيمٌ
Artinya “Kamu sekali-kali tidak
sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan
sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali- Imron ayat 92)
2. Asas amal/landasan segala amal
Peribadatan seorang hamba yang muslim akan diterima dan diberi pahala
oleh Allah I apabila telah memenuhi dua syarat utama berikut ini, yaitu
:
1. IKHLAS ( اَلإِخْلاَصُ )
Ikhlas merupakan salah satu makna dari syahadat ( أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) ‘bahwa tiada
sesembahan yang berhak disembah selain Allah I’ yaitu agar menjadikan
ibadah itu murni hanya ditujukan kepada Allah semata. Allah I berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا
الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. [QS. Al Bayyinah : 5]
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan (mu) untuk-Nya.” [QS. Az Zumar : 2]
Kemudian Rasulullah bersabda :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. [HR. Abu Dawud dan Nasa’i]
Lawan daripada ikhlas adalah syirik (menjadikan bagi Allah
tandingan/sekutu di dalam beribadah, atau beribadah kepada Allah tetapi
juga kepada selain-Nya). Contohnya : riya’ (memperlihatkan amalan pada orang lain), sum’ah (memperdengarkan suatu amalan pada orang lain), ataupun ujub
(berbangga diri dengan amalannya). Kesemuanya itu adalah syirik yang
harus dijauhi oleh seorang hamba agar ibadahnya itu diterima oleh Allah I . Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ
اْلأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian
adalah syrik kecil”, para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa itu
syirik kecil ? Rasulullah menjawab : “Riya’”. [HR. Ahmad]
Kemudian firman Allah tentang larangan syirik ialah,
فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui”. [QS. Al-Baqoroh :22]
Orang yang rajin beribadah kepada Allah I namun dalam waktu yang
bersamaan ia belum bertaubat dari perbuatan syirik dengan berbagai
bentuknya, maka semua amal ibadah yang telah dikerjakannya menjadi
terhapus dan ia menjadi orang yang merugi di akhirat kelak, sebagaimana
firman Allah Ta’ala:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. [QS. Al-An’aam: 88]
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ
وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada
(nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya
akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang
merugi”. [QS. Az-Zumar: 65]
Al-Ittiba’ (Mengikuti Tuntunan Nabi Muhammad r) merupakan salah satu dari makna syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah (أَنَّمُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ), yaitu
agar di dalam beribadah harus sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh
Nabi Muhammad r . Setiap ibadah yang diadakan secara baru yang tidak
pernah diajarkan atau dilakukan oleh Nabi Muhammad maka ibadah itu tertolak, walaupun pelakunya tadi seorang muslim yang mukhlis
(niatnya ikhlas karena Allah dalam beribadah). Karena sesungguhnya
Allah telah memerintahkan kepada kita semua untuk senantiasa mengikuti
tuntunan Nabi Muhammad dalam segala hal, dengan firman-Nya :
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.[QS. Al Hasyr : 7]
Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. [QS. Al-Ahzaab: 21]
Dan Rasulullah r juga telah memperingatkan agar meninggalkan segala
perkara ibadah yang tidak ada contoh atau tuntunannya dari beliau,
sebagaimana sabda beliau:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada urusannya dari kami maka amal itu tertolak”. [HR. Muslim]
Itulah tadi dua syarat yang menjadikan ibadah seseorang diterima dan diberi pahala oleh Allah, sebagaimana firman-Nya :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah
ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. [QS. Al Kahfi : 110]
3. Setara dengan jihad
Jihad ternyata bukan hanya dengan berperang mengangkat senjata.
Menuntut ilmu agama bisa pula disebut jihad. Bahkan sebagian ulama
berkata bahwa jihad dengan ilmu ini lebih utama daripada dengan senjata.
Karena setiap jihad mesti pula didahului dengan ilmu.
Perkataan Ulama: Menuntut Ilmu Bagian dari Jihad
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
“Menuntut ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah karena agama
ini bisa terjaga dengan dua hal yaitu dengan ilmu dan berperang
(berjihad) dengan senjata.
Sampai-sampai sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya menuntut ilmu lebih utama daripada jihad di jalan Allah dengan pedang.”
Karena menjaga syari’at adalah dengan ilmu. Jihad dengan senjata pun
harus berbekal ilmu. Tidaklah bisa seseorang berjihad, mengangkat
senjata, mengatur strategi, membagi ghonimah (harta rampasan perang),
menawan tahanan melainkan harus dengan ilmu. Ilmu itulah dasar
segalanya”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 108)
Di halaman yang sama, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata bahwa ilmu yang
dipuji di sini adalah ilmu agama yang mempelajari Al Qur’an dan As
Sunnah.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya, “Apakah
afdhol saat ini untuk berjihad di jalan Allah ataukah menuntut ilmu
(agama) sehingga dapat bermanfaat pada orang banyak dan dapat
menghilangkan kebodohan mereka? Apa hukum jihad bagi orang yang tidak
diizinkan oleh kedua orang tuanya, namun ia masih tetap pergi berjihad?”
Jawab beliau, “Perlu diketahui bahwa menunut ilmu adalah bagian dari
jihad. Menuntut ilmu dan mempelajari Islam dihukumi wajib. Jika ada
perintah untuk berjihad di jalan Allah dan jihad tersebut merupakan
semulia-mulianya amalan, namun tetap menuntut ilmu harus ada. Bahkan
menuntut ilmu lebih didahulukan daripada jihad. Karena menuntut ilmu itu
wajib. Sedangkan jihad bisa jadi dianjurkan, bisa pula fardhu kifayah.
Artinya jika sebagian sudah melaksanakannya, maka yang lain gugur
kewajibannya. Akan tetapi menuntut ilmu adalah suatu keharusan. Jika
Allah mudahkan bagi dia untuk berjihad, maka tidaklah masalah. Boleh ia
ikut serta asal dengan izin kedua orang tuanya. Adapun jihad yang wajib
saat kaum muslimin diserang oleh musuh, maka wajib setiap muslim di
negeri tersebut untuk berjihad. Mereka hendaknya menghalangi serangan
musuh tersebut. Termasuk pula kaum wanita hendaklah menghalanginya
sesuai kemampuan mereka. Adapun jihad untuk menyerang musuh di negeri
mereka, jihad seperti ini dihukumi fardhu kifayah bagi setiap pria.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 24: 74)
4. Makanan jiwa
Ilmu agama adalah makanan bagi jiwa, jika makanan jiwa ini tercukupi maka jiwanya akan kuat dan tidak mudah sakit atau terkena godaan syaitan. Banyak orang-orang pada jaman sekarang ini hanya mencari makan untuk jasmaninya saja, akibatnya sebanyak apapun yang hasil yang telah didapatkan tidak pernah puas. Semua hal ini diakibatkan jiwanya yang lapar, membuat jiwanya lemah dan mudah sekali diombang-ambingkan oleh syaitan.
Simak firman allah (QS al-Fajr [89]: 27-30) berikut :
يَا أَيَّتُهَا
النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً
مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾
Hai jiwa yang tenang, kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke
dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku
5. Menjadi doa minta dikabulkannya ilmu
Allah memerintahkan kepada nabinya Muhammad SAW untuk meminta
ditambahkan ilmu sebagaimana dalam firman Allah, (… dan katakanlah: Ya
Rabb ku, tambahkanlah kepadaku ilmu) (QS.Thahaa 114)
6. Jalan menuju surga
Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga, ”Barang siapa yang menempuh
suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan
baginya jalan menuju surge,” (HR Muslim)
7. Satu dari dua hal yang diperbolehkaan untuk iri (ilmu & harta yang berkah)
Diperbolehkannya ”hasad” kepada ahli ilmu,”Tidak hasad kecuali dalam dua
hal, yaitu terhadap orang yang Allah beri harta dan ia menggunakannya
dalam kebenaran dan orang yang Allah beri hikmah lalu ia mengamalkannya
dan mengajarkannya,” (HR Bukhari )
8. Tidak akan berkurang jika diberikan
Tapi ilmu tidak akan berkurang bila diajarkan.
Harta akan terkikis bila digunakan.
Tapi ilmu justru akan bertambah bila diamalkan.
Ilmu yang tidak diamalkan, bagai pohon tanpa buah.
Sia-sia ilmunya, tidak ada manfaatnya.
Ilmu di tangan orang yang mulia, bagai pohon tumbuh di lahan subur.
Berbuah banyak dan besar-besar.
Ilmunya mendatangkan banyak manfaat.
Ilmu di tangan orang yang tidak mulia, bagai pohon tumbuh di lahan gersang.
Berbuah sedikit dan kecil-kecil.
Ilmunya mendatangkan sedikit manfaat.

Masya Allah... Tulisan menarik dan lengkap...
BalasHapusJazkillahukhoirun syukron
Hapusalhamdulillah mendapatkan ilmu baru
BalasHapusSemoga yang sedikit ini bisa bermanfaat
Hapus