Assalamualaikum warohmatullohi wabarakatuh
Artikel ini adalah lanjutan dari Keutamaan ilmu agama, silahkan baca artikel sebelumnya untuk memudahkan memahami artikel ini.
AMALAN YANG TETAP MENGHASILKAN PAHALA
Oleh
Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr[1]
Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr[1]
عَنْ أَنَسٍ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ : سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ
فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا
أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ
وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
Dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan, ” Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya
akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam
kuburnya setelah wafatnya (yaitu) : Orang yang yang mengajarkan suatu
ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun
masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun
buatnya setelah dia meninggal"
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astâr, hlm. 149.
hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam
shahihul Jami’, no. 3602
Sungguh di antara nikmat agung Allâh yang diberikan kepada para
hamba-Nya yang beriman adalah Allâh Azza wa Jalla menyediakan
pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak bagi mereka. Pintu-pintu
kebaikan yang bisa dikerjakan oleh seorang hamba yang mendapatkan taufiq
semasa hidupnya di dunia, namun pahalanya akan terus mengalir
sepeninggal si pelaku. (Aliran pahala ini sangat dibutuhkan oleh orang
yang sudah meninggal.) Karena orang yang sudah meninggal itu tergadai,
mereka tidak bisa lagi beramal dan mereka akan diminta pertanggungan
jawab lalu diberi balasan dari perbuatan-perbuatan yang pernah mereka
lakukan dalam hidup mereka. (Berbahagialah !) orang yang mendapatkan
taufiq (dalam hidupnya, karena) di dalam kuburnya kebaikan-kabaikan,
pahala dan keutamaan akan terus mengalir baginya. Dia sudah tidak lagi
beramal akan tetapi pahalanya tidak terputus, derajatnya bertambah, dan
kebaikannya semakin berkembang, serta pahalanya berlipat ganda padahal
dia sudah terbaring kaku dalam kuburnya.
Alangkah mulianya; Alangkah indah dan alangkah nikmatnya. (Semogga
Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan akhir kehidupan yang baik bagi kita
semua).
(Bagaimanakah menggapai harapan setiap insan beriman itu ?) Dalam
hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tujuh
perkara yang pahalanya akan terus mengalir kepada seorang hamba setelah
ia meninggal.
Wahai saudaraku ! Renungkanlah sejenak amalan-amalan ini lalu
berusahalah untuk mendapatkan bagian darinya selama engkau masih diberi
kesempatan di dunia. Bergegaslah untuk mengerjakannya sebelum umurmu
habis dan ajal datang menjemput !
Berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang amalan-amalan tersebut :
1. Mengajarkan Ilmu.
Kata ilmu yang dimaksudkan disini adalah ilmu bermanfaat yang bisa mengantarkan seseorang agar mengerti tentang agama mereka, bisa mengenalkan Rabb dan sesembahan mereka; ilmu yang bisa menuntun mereka ke jalan yang lurus; Ilmu yang dengannya bisa membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebathilan, serta halal dan haram. Dari sini, nampak jelas besarnya keutamaan para Ulama yang selalu mamberi nasehat dan para da’i yang ikhlas. Merekalah (ibarat) pelita bagi manusia, penyangga negara, pembimbing umat dan sumber hikmah. Hidup mereka merupakan kekayaan dan kematian mereka adalah musibah. Karena mereka mengajari orang-orang yang tidak tahu, mengingatkan yang lalai, serta menerangkan petunjuk kepada orang yang sesat. Ketika salah seorang dari para Ulama meninggal dunia, maka ilmunya akan tetap abadi terwariskan di tengah masyarakat, buku karya dan perkataannya akan senantiasa beredar. Masyarakat bisa memanfaatkan dan mengambil faidah dari buah karya mereka. (Dengan sebab inilah) pahala akan terus mengalir, meski mereka sudah berada dalam kuburan.
Dahulu banyak orang mengatakan, “Seorang yang berilmu meninggal dunia
sementara kitabnya masih ada.” Namun sekarang, suaranya (pun) terekam
dalam pita-pita kaset (atau kepingan CD) yang berisi pelajaran-pelajaran
ilmiyah, muhadharah dan khuthbah-khuthbah yang sarat dengan manfaat,
sehingga generasi-generasi yang datang setelahnya bisa mengambil manfaat
darinya.
Orang yang berpartisipasi dalam mencetak buku-buku yang bermanfaat,
dan menyebarkan buku-buku karya para Ulama yang sarat dengan faedah
serta membagikan kaset-kaset ilmiyyah maka dia juga mendapatkan pahala
yang besar dari sisi Allâh Azza wa Jalla.
2. Mengalirkan Sungai
Maksudnya adalah membuat aliran-aliran sungai dari mata air dan sungai induk, supaya airnya bisa sampai ke pemukiman masyarakat serta sawah ladang mereka. Dengan demikian, manusia akan terhindar dari dahaga, tanaman tersirami, serta binatang ternak mendapatkan air minum.
Betapa pekerjaan besar ini akan menghasilkan begitu banyak kebaikan
bagi manusia dengan membuat kemudahan bagi dalam mengakses air yang
merupakan unsur terpenting dalam kehidupan. Semisal dengan ini yaitu
mengalirkan air ke pemukiman masyarakat melalui pipa-pipa, begitu pula
menyediakan tandon-tandon air di jalan-jalan dan tempat-tempat yang
mereka butuhkan.
3. Menggali Sumur
Ini sama dengan penjelasan di atas. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ
فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ
يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ
بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ بِي
فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ
اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي
الْبَهَائِمِ أَجْرًا فَقَالَ نَعَمْ فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ
أَجْرٌ
Suatu ketika ada seorang lelaki yang menahan dahaga yang teramat
berat berjalan di jalan, lalu dia menemukan sumur. Dia turun ke sumur
itu lalu meminum kemudian keluar. Sekonyong-konyong dia mendapati seekor
anjing terengah menjulurkan lidahnya menjilat tanah karena saking
hausnya. (Melihat pemandangan ini,) lelaki itu mengatakan, ‘Anjing ini
telah dahaga yang sama dengan yang aku rasakan.’ Lalu dia turun ke sumur
itu dan memenuhi sepatunya dengan air lalu diminumkan ke anjing
tersebut. Maka (dengan perbuatannya itu) Allâh Azza wa Jalla bersyukur
untuknya dan memberikan maghfirah (ampunan)-Nya. Para shahabat bertanya,
“Apakah kita bisa mendapatkan pahala dalam (pemeliharaan) binatang ?”
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, pada setiap
nyawa itu ada pahala.” [2]
Ini pahala yang didapatkan oleh orang yang memberikan minum, lalu
bagaimana dengan orang yang menggali sumur yang dengan keberadaannya
akan tercukupi kebutuhan minum banyak orang dan bisa dimanfaatkan oleh
banyak orang.
4. Menanam Pohon Kurma
Telah diketahui bersama bahwa pohon kurma merupakan pohon termulia dan memiliki banyak manfaat buat manusia. Maka barangsiapa menanam pohon kurma dan mendermakan buahnya untuk kaum Muslimin, maka pahalanya akan terus mengalir setiap kali ada orang memakan buahnya atau setiap kali ada yang memanfaatkannya baik manusia maupun hewan. Ini juga berlaku bagi siapa saja yang menanam segala macam pohon yang bermanfaat bagi manusia. Penyebutan kurma dalam hadits di atas secara khusus disebabkan keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki oleh pohon kurma.
5. Membangun Masjid
Masjid merupakan tempat yang paling dicintai Allâh Azza wa Jalla. Sebuah tempat yang Allâh perintahkan untuk diangkat dan disebut nama-Nya di sana. Apabila masjid telah dibangun maka di sana akan dilaksanakan shalat, dibaca ayat-ayat al-Qur’ân, nama-nama Allâh Azza wa Jalla akan disebut, ilmu-ilmu akan diajarkan, serta bisa menjadi tempat berkumpulnya kaum Muslimin, masih banyak faedah-faedah yang lain. Masing-masing poin itu bisa menghasilkan pahala.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَ ضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يَقُوْلُ مَنْ بَنَى
مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي
الْجَنَّةِ
Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, “Aku
pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‘Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah Allâh Azza wa
Jalla, maka Allâh Azza wa Jalla akan membangunkannya rumah yang sama di
surga.[3]
6. Mewariskan al-Qur’ân
Ini bisa dilakukan dengan cara mencetak atau membeli mushaf al-Qur’an lalu mewakafkannya di masji-masjid dan majlis-majlis ilmu agar bisa dimanfaatkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mewakafkan mushaf al-Qur’an akan mendapatkan pahala setiap kali ada orang yang membacanya, mentadabburi maknanya dan mengamalkan kandungannya.
7. Mendidik Anak-anak
Memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak serta berusaha maksimal membesarkan mereka dalam ketaqwaan dan kebaikan. Sehingga diharapkan, mereka akan menjadi anak-anak yang berbakti dan shalih, yang mendoakan kebaikan untuk kedua orang tua mereka, dan memohonkan rahmat serta ampunan buat kedua orang tua mereka. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sesungguhnya ini termasuk hal-hal yang masih bermanfaat bagi seseorang meski ia sudah menjadi mayit.
Senada dengan hadits di awal yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ
مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ
وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ
السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ
مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
Sesungguhnya diantara amal dan kebaikannya yang akan menyertai
seorang Mukmin setelah meninggalnya adalah ilmu yang diajarkan dan
disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang
diwariskannya, masjid yang dibangun, rumah persinggahan yang dibangun
bagi orang yang sedang menempuh perjalanan, sungai yang dialirkannya,
sedekah yang dia keluarkan dari hartanya saat masih sehat dan hidup akan
menyertainya sampai meninggalnya [4]
Juga hadits dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
أَرْبَعَةٌ تَجْرِي عَلَيْهِمْ أُجُوْرُهُمْ بَعْدَ الْمَوْتِ : مَنْ
مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيْلِ اللهِ وَ مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أُجْرِيَ
لَهُ عَمَلُهُ مَا عَمِلَ بِهِ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَجْرُهَا
يَجْرِي لَهُ مَا وُجِدَتْ وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا فَهُوَ
يَدْعُوْ لَهُ
Ada empat hal yang pahalanya tetap mengalir bagi pelakunya setelah
meninggalnya (yaitu) orang yang meninggal saat menjaga perbatasan dalam
jihad fi sabilillah, orang yang mengajarkan ilmu dia akan tetap diberi
pahala selama ilmunya itu diamalkan; Orang yang bersedekah maka
pahalanya akan tetap mengalir selama sedekah itu masih ada; dan orang
yang meninggalkan anak shalih yang mendo’akannya[5]
Juga hadits yang sangat populer yaitu hadits dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus
kecuali dari tiga perkara (yaitu) dari sedekah jariyah, ilmu yang
dimanfaatkan dan anak shalih yang mendo’akannya[6]
Ketika menjelaskan maksud dari shadaqah jariyah, sekelompok para
Ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah wakaf. Sebagian besar dari
perkara-perkara yang dipaparkan di atas termasuk shadaqah jariyah.
Dan sabdanya : ((أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ )) yang
artinya rumah yang dibangun untuk orang yang sedang melakukan
perjalanan.
Di dalam potongan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini
terdapat isyarat keutamaan membangun rumah dan mewaqafkannya agar bisa
dimanfaatkan oleh kaum Muslimin secara umum, baik ibnu sabîl, para
penuntut ilmu, anak-anak yatim, para janda ataupun orang-orang fakir dan
miskin. Alangkah banyak kebaikan dan kemaslahan yang terealisasi dengan
hal ini.
Terkadang hal-hal tersebut di atas memancing munculnya berbagai
amalan-amalan yang penuh barakah yang akan tetap menghasilkan pahala
bagi pelakunya meskipun dia sudah meninggal dunia.
Akhirnya, kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar Allâh Azza wa
Jalla memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk melakukan semua kebaikan
dan agar Allâh Azza wa Jalla senantiasa membantu kita dalam melakukan
berbagai aktifitas kebaikan dan senantiasa membimbing kita dalam meniti
jalan petunjuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar