“Nabi sallallahu’alaihi wasallam
tidak mengajariku demikian” komentar ibnu mas’ud pada seorang laki-laki yang
membaca al-quran dengan salah. Padahal kesalahan itu tidaklah terlalu fatal
yang tidak sampai mengubah arti. Lelaki itu hanyalah membaca “al-fuqara’”
dengan panjang ra dua harakat, namun
sahabat Ibnu Mas’ud langsung menegur dan membenarkan “Beliau mengajariku
membacanya dengan mad (memanjangkan huruf ra pada kata ‘Al-Fuqaraa” lebih dari
dua harakat.” Kesalahan kecil saja ditegur oleh sahabat apalagi jika kesalahan
itu sampai mengubah arti.
Untuk menjaga keshahihan dan
kefasihan membaca Al-Qur`an, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rambu-rambu yang
Dia tuangkan dalam firman-Nya, “Dan bacalah Al-Qur`an dengan setartil mungkin.”
(QS. Al-Muzzammil: 4)
Bacaan dengan tartil itulah yang
diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat
beliau Radhiyallahu ‘Anhum sebagaimana beliau belajar langsung kepada Jibril
‘Alaihis Salam. Bacaan itu pula yang secara turun temurun dari seorang guru ke
murid-muridnya hingga sampailah kepada kita.
Apa yang dimaksud dengan tartil
pada ayat tersebut? Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu mendifinisikan,
“Tartil adalah mentajwidi (membaguskan) huruf dan mengetahui seluk beluk waqaf
(menghentikan bacaan).”
Dalam definisi Ali bin Abi Thalib
Radhiyallahu ‘Anhu di atas terdapat dua pokok pikiran yang akan menyelamatkan
bacaan Al-Qur`an. Yaitu: mentajwidi huruf dan mengetahui seluk beluk waqaf
(menghentikan bacaan). Dengan dua hal ini, insya Allah bacaan seseorang akan
seperti bacaan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum di masa Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam.
Pertama; Mentajwidi huruf.
Mentajwidi huruf berarti
membenahi setiap huruf yang diucapkan pembaca Al-Qur`an. Pembenahan bacaan
Al-Qur`an ini semestinya dilakukan secara menyeluruh dimulai dari pengucapan
masing-masing hurufnya hingga pada ketentuan-ketentuan bacaan yang biasa
dibahas dalam ilmu tajwid.
Hal ini sangat prinsip dan sangat
urgen karena tatkala seorang pembaca mengucapkan suatu huruf namun tertukar
huruf lainnya berarti mengubah arti atau bahkan bacaannya tidak memiliki makna.
Di kalangan orang yang tidak berbahasa Arab seperti kita, kesalahan-kesalahan
yang dikategorikan sebagai kesalahan berat dan fatal ini sering kali terjadi,
baik karena disengaja maupun tidak disenagaja.
Kedua; Mengetahui di mana harus menghentikan bacaan
Al-Qur`an dan dari mana memulainya kembali.
Masalah waqaf (menghentikan
bacaan) menjadi penyempurna bacaan Al-Qur`an. Dengan memperhatikan tempat yang
tepat untuk menghentikan bacaan dan memulai kembali bacaan tersebut akan
menghasilkan bacaan yang bermakna benar. Salah dalam menghentikan atau memulai
bacaan berarti berakibat berubahnya makna ayat.
Secara Umum kesalahan dalam membaca al-qur’an dibagi
menjadi dua :
1. اللحن الجلي (Al-Lahnul Jaliy).
Kesalahan yang terjadi ketika
membaca lafadz-lafadz dalam al-quran secara jelas baik di kalangan awam maupun
para ahli tajwid. Seperti kesalahan dalam pengucapan huruf dengan mengubah
bunyi satu huruf dengan huruf lain, merubah harakat, membaca panjang huruf yang
seharusnya pendek atau sebaliknya, kemudian mentasydidkan huruf yang tidak
seharusnya bertasydid atau sebaliknya. Dan melakukan kesalahan ini hukumnya
haram.
2. اللحن الخفي (al-Lahnul Khafiy)
Kesalahan ringan yang tidak
diketahui secara umum, kecuali oleh orang yang memiliki pengetahuan mengenai
kesempurnaan bacaan al-qur’an. Diantaranya : Kesalahan dalam menerapkan kaidah
ghunnah, Kurang panjang dalam membaca mad, dan lain-lain. Melakukan kesalahan
ini dengan sengaja hukumnya makruh.
Untuk menghidari kesalahan inilah
kita dianjurkan untuk belajar ilmu tajwid, dengan tujuan menjaga lidah agar
terhindar dari kesalahan dalam membaca al-quran.
Guna menjaga kemurnian dan
keaslian bacaan Al-Qur`an ini para ulama telah sepakat bahwa membaca Al-Qur`an
dengan tajwid adalah wajib . Dalam Manzhumah Al-Muqaddimah, Imam Ibnul Jazari
menegaskan,
“Membaca Al-Qur`an dengan tajwid
adalah wajib
berdosalah orang yang tidak
membaca Al-Qur`an dengan tajwid
karena dengannya Allah
menurunkannya,
demikianlah dari-Nya hingga
sampai ke kita.”
sWallahu a’lam..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar