Jumat, 18 November 2016

Urgensi Tahsin Tilawah Al-Quran

“Nabi sallallahu’alaihi wasallam tidak mengajariku demikian” komentar  ibnu mas’ud pada seorang laki-laki yang membaca al-quran dengan salah. Padahal kesalahan itu tidaklah terlalu fatal yang tidak sampai mengubah arti. Lelaki itu hanyalah membaca “al-fuqara’” dengan panjang ra  dua harakat, namun sahabat Ibnu Mas’ud langsung menegur dan membenarkan “Beliau mengajariku membacanya dengan mad (memanjangkan huruf ra pada kata ‘Al-Fuqaraa” lebih dari dua harakat.” Kesalahan kecil saja ditegur oleh sahabat apalagi jika kesalahan itu sampai mengubah arti. 

 
Untuk menjaga keshahihan dan kefasihan membaca Al-Qur`an, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rambu-rambu yang Dia tuangkan dalam firman-Nya, “Dan bacalah Al-Qur`an dengan setartil mungkin.” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Bacaan dengan tartil itulah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat beliau Radhiyallahu ‘Anhum sebagaimana beliau belajar langsung kepada Jibril ‘Alaihis Salam. Bacaan itu pula yang secara turun temurun dari seorang guru ke murid-muridnya hingga sampailah kepada kita.

Apa yang dimaksud dengan tartil pada ayat tersebut? Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu mendifinisikan, “Tartil adalah mentajwidi (membaguskan) huruf dan mengetahui seluk beluk waqaf (menghentikan bacaan).”

Dalam definisi Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu di atas terdapat dua pokok pikiran yang akan menyelamatkan bacaan Al-Qur`an. Yaitu: mentajwidi huruf dan mengetahui seluk beluk waqaf (menghentikan bacaan). Dengan dua hal ini, insya Allah bacaan seseorang akan seperti bacaan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pertama; Mentajwidi huruf.

Mentajwidi huruf berarti membenahi setiap huruf yang diucapkan pembaca Al-Qur`an. Pembenahan bacaan Al-Qur`an ini semestinya dilakukan secara menyeluruh dimulai dari pengucapan masing-masing hurufnya hingga pada ketentuan-ketentuan bacaan yang biasa dibahas dalam ilmu tajwid.
Hal ini sangat prinsip dan sangat urgen karena tatkala seorang pembaca mengucapkan suatu huruf namun tertukar huruf lainnya berarti mengubah arti atau bahkan bacaannya tidak memiliki makna. Di kalangan orang yang tidak berbahasa Arab seperti kita, kesalahan-kesalahan yang dikategorikan sebagai kesalahan berat dan fatal ini sering kali terjadi, baik karena disengaja maupun tidak disenagaja.

Kedua; Mengetahui di mana harus menghentikan bacaan Al-Qur`an dan dari mana memulainya kembali.

Masalah waqaf (menghentikan bacaan) menjadi penyempurna bacaan Al-Qur`an. Dengan memperhatikan tempat yang tepat untuk menghentikan bacaan dan memulai kembali bacaan tersebut akan menghasilkan bacaan yang bermakna benar. Salah dalam menghentikan atau memulai bacaan berarti berakibat berubahnya makna ayat.

Secara Umum kesalahan dalam membaca al-qur’an dibagi menjadi dua :

1. اللحن الجلي (Al-Lahnul Jaliy).

Kesalahan yang terjadi ketika membaca lafadz-lafadz dalam al-quran secara jelas baik di kalangan awam maupun para ahli tajwid. Seperti kesalahan dalam pengucapan huruf dengan mengubah bunyi satu huruf dengan huruf lain, merubah harakat, membaca panjang huruf yang seharusnya pendek atau sebaliknya, kemudian mentasydidkan huruf yang tidak seharusnya bertasydid atau sebaliknya. Dan melakukan kesalahan ini hukumnya haram.

2. اللحن الخفي (al-Lahnul Khafiy) 

Kesalahan ringan yang tidak diketahui secara umum, kecuali oleh orang yang memiliki pengetahuan mengenai kesempurnaan bacaan al-qur’an. Diantaranya : Kesalahan dalam menerapkan kaidah ghunnah, Kurang panjang dalam membaca mad, dan lain-lain. Melakukan kesalahan ini dengan sengaja hukumnya makruh.

Untuk menghidari kesalahan inilah kita dianjurkan untuk belajar ilmu tajwid, dengan tujuan menjaga lidah agar terhindar dari kesalahan dalam membaca al-quran. 

Guna menjaga kemurnian dan keaslian bacaan Al-Qur`an ini para ulama telah sepakat bahwa membaca Al-Qur`an dengan tajwid adalah wajib . Dalam Manzhumah Al-Muqaddimah, Imam Ibnul Jazari menegaskan,

“Membaca Al-Qur`an dengan tajwid adalah wajib
berdosalah orang yang tidak membaca Al-Qur`an dengan tajwid
karena dengannya Allah menurunkannya,
demikianlah dari-Nya hingga sampai ke kita.”
sWallahu a’lam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar