Jumat, 11 Oktober 2019

Bulan Berkah, Az-zakiyyah Hadirkan Pesantren Ramadhan



Ramadhan1440 hijriyah, Pesantren Azzakiyyah mengadakan program Pesantren Ramadhan Menghafal Al-quran bagi muslimah usia 20 hingga 40 tahun. Pesantren yang berada dibawah bimbingan ustadzah Isnaini Mangasiroh, Lc diadakan selama 10 hari pada 5 hingga Tidak hanya mengejar target hapalan   2,5 Juz mutqin, santriwati juga di bekali oleh ilmu belajar murotal dasar dan kajian rutin tafsir Al-Azhar. Pesantren juga memberikan fasilitas laundry, makan sahur dan buka puasa bersama kepada santriwati sehingga kebersamaan, ukhuwah dan kedekatan antar sesama santri dan tim pesantren Azzakiyyah menjadi terjalin, selama proses menghapal, rihlah juga dilaksanakan dalam rangka merefresh pikiran dan murajaah di alam terbuka sembari mencari hikmah bersyukur atas segala kenikmatan alam semesta yang telah Allah anugrahkan. Program Pesantren Ramadhan Menghafal akan dilakukan setiap tahun di bulan Ramadhan, pihak pesantren berharap agar para muslimah memanfaatkan program ini dengan sebaik-baiknya agar dapat memaksimalkan amalan dan memperbaiki kualitas iman di bulan yang penuh keberkahan.

Sabtu, 23 Februari 2019

Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja

Belajar alquran mudah dan menyenangkan. Baitul Quran Azzakiyyah adalah da’wah yang bergerak dalam bidang pendidikan Al-Quran, bahasa arab dan kajian keislaman dasar untuk masyarakat umum yang berbasis di jogja. Pembelajaran ini dirancang khusus muslimah dan gratis. Dengan pilihan waktu belajar yang dapat menyesuaikan. Kurikulum yang diajarkan di Azzakiyah antara lain: Belajar Al-Quran dari nol, Perbaikan Bacaan Al-Quran, Hafalan Al-Quran, Bahasa Arab dan Lanjutan, Kajian Fiqih Islami, Kajian Al-Quran, dan Pendampingan Kesembuhan dengan Al-Quran. Untuk Informasi dan pendaftaran bisa menghubungi: WA 0858 5442 8686



Pengajar yang ada di Azzkiyyah adalah para profesional yang mendalami dunia dakwah selama bertahun-tahun. Telah berpengalaman dalam berbagai organisasi dakwah islami antara lain: FOSKADIYAH Jawa Timur, LDK Al-Fatih LIPIA, PPMU WAMY, dan Pengajar Tahsin dan tahfidz Al-Qur’an Salam Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Lulusan terbaik dari LIPIA. 



Membaca Al-Quran Bukti Cinta Hamba pada Allah SWT

Diantara tanda seorang hamba mencintai Allah dan RasulNya adalah dengan membaca Al-Quran. Ia membacanya siang dan malam tanpa ada rasa berat dihati. Karena membaca Al-quran bukan lagi sebagai sebuah beban, membaca sudah menjadi sebuah kebutuhan. Jika ia tinggalkan sehari saja ia merasa ada yang kurang dari hidupnya, Ia membaca karena mengharapkan rahmat dari Allah, untuk mendapatkan keberkahan dariNya. Abu Hurairah ra. Berkata : “Rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Quran menjadi banyak kebaikannya, para malaikat mendatanginya, dan setan keluar dari rumah tersebut. Sedangkan rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Al-quran penghuninya merasa kesempitan, kebaikannya menjadi sedikit, setan-setan mndatanginya, dan para malaikat   keluar dari rumah tersebut” (Diriwayatkan oleh Ibn Al-Mubarak di dalam kitab Az-zuhd).  Maka ketika hati ini mulai merasa sempit, sering merasa cemas bersegeralah untuk mendekat pada Allah dengan memperbanyak dzikir dan tilawah, karena sebaik-baik dzikir adalah bacaan al-quran.


Seorang mukmin yang sering berinteraksi dengan Al-Quran, baik membaca, tadabbur, maupun mengamalkannya  adalah orang yang mendapatkan karunia dari Allah, berupa ketentraman hati dan ampunanNya. Karena itu amat merugi orang yang jauh dari al-Quran, dan akhlak keribadiannya tidak qurani. Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mengerjakan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka dari karunia-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”. (Faathir :29-30)


”Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab hati yang memahami Al-Qur’an”. Karena hati yang memahami Al-Quran dipenuhi oleh cahaya Allah. Bersikap dan berinteraksi dalam masyarakat berdasarkan petunjuk dari Allah.


Bentuk interaksi awal terhadap al-quran adalah dengan belajar membacanya, mengeja huruf satu-persatu meskipun susah, kemudian berusaha membaca dengan tartil sesuai dengan kaidah tajwid. Dan juga berusaha memahami makna yang terkandung didalamnya, kemudian mengamalkannya. Ketika bacaan Al-quran sudah mulai lancar bisa langsung ke jejang berikutnya yaitu menghafal. Sebagai seorang mukmin sudah menjadi lazim baginya untuk dapat menghafal al-quran meskipun hanya sedikit. Seseorang yang tidak mempunyai hafalan al-quran diumpamakan sebagai rumah yang rusak. Dari Ibn Abbas ra. Ia berkata bahwa rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada sesuatu pun (hafalan) dari al-quran seperti rumah yang rusak (tak berpenghuni).” (H.R. At-TTirmidzi).

 [1] Diriwayatkan oleh Ibn Al-Mubarak di dalam kitab Az-zuhd


Dalam belajar Al-Quran ada adab-adab yang harus ditaati. Karena ilmu datangnya dari Allah SWT maka harus dalam alangkah baiknya jika disambut dengan baik.

Adab Belajar Al-quran


    Al-Quran adalah ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Ayat-ayat Al-Quran sungguh agung kedudukannya dalam islam. Sehingga membacanya merupakan amal shalih dan kebaikan yang berpahala, karena setiap hurufnya mengandung sepuluh kebaikan. Dan begitu juga yang mendengarkan, akan mendapatkan rahmat dari Allah. Bahkan akan bergetar hati seseorang ketika mendengarkan ayat al-quran, dan itu menunjukkan keimanannya yang tinggi.

    Belajar Al-quran merupakan kewajiban setiap muslim, maka dari itu bagi yang hendak belajar al-quran harus menjaga adab-adab dalam belajar al-quran, agar ia mendapatkan kemudahan, keberkahan, dan rahmat dari Allah selama belajar. Diantara adab-adab dalam belajar al-quran adalah sebagai berikut :

1. Niat Ikhlas karena Allah.

Setiap berbuatan tergantung pada niat. Karena niat yang akan menentukan suatu perbuatan itu berpahala atau tidak. 

Rasulullah sallallahu’alaihiwasallam bersabda : إنما الأعمال بالنيات، ولكل امرء ما نوى  “Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung niatnya, dan seseorang diberi pahala sesuai dengan niatnya.” (H.R. Bukhari-Muslim. Maka hendaknya seseorang yang belajar al-quran mempunyai niat yang ikhlas untuk mendapatkan pahala kebaikan dari sisi Allah swt. Sungguh merugi bagi orang yang belajar al-quran hanya agar ia bisa membaca dengan fasih sehingga orang akan terkagum-kagum pada bacaannya namun di sisi Allah tidak ada harganya kecuali pujin manusia saja.

2. Do’a.

Banyak berdo’a merupakan kunci keberhasilan dalam belajar. Dengan berdo’a seseorang akan menyandarkan dirinya pada Allah. Sehingga ketika mengalami kesulitan dalam belajar ia tidak akan putus asa, melainkan ia akan  terus berusaha dan meminta pertolongan dari Allah.

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”

3. Himmah ( Keinginan yang kuat dalam belajar )


Dalam belajar seseorang harus mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat menguasai apa yang ia pelajari. Dengan keinginan yang kuat seseorang tidak akan mudah putus asa.

4. Menjalani prinsip-prinsip belajar al-quran

Seseorang tidak akan berhasil dalam belajar al-quran kecuali ia konsisten dalam menjalanai prinsip-prinsip belajar, yaitu:

1.    Menghadiri halaqah belajar dengan disiplin.
Seseorang yang tidak disiplin dalam menghadiri halaqah ia akan ketinggalan materi dari temannya. Sehingga ilmu yang didapat tidak sempurna. Hal ini akan menghambat proses belajar dirinya.
2.    Cintai teman halaqah dan pembimbing.
3.    Mengikuti semua petunjuk halaqah
  • Aktif lidah dalam membaca
  • Aktif pendengaran
  • Fokus dalam membenahi kesalahan tilawah
  • Upayakan untuk mengajarkan pada orang lain
  • Ujian untuk evaluasi

Baitul Quran Azzakiyyah

           Baitul Quran Azzakiyyah adalah da’wah yang bergerak dalam bidang pendidikan Al-Quran, bahasa arab dan kajian keislaman dasar untuk masyarakat umum. Pembelajaran di Azzakiyyah dirancang khusus untuk muslimah berbasasis metode pengajaran isalam untuk orang dewasa. Pembelajaran dimulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut dengan menghadirkan pengajar professional lulusan LIPIA yang sudah berpengalaman dalam mengajar.

          Azzakiyyah  hadir menjadi solusi bagi muslimah yang mempunyai keinginan kuat untuk belajar al-quran, mulai dari belajar membaca, membenarkan bacaan, sampai ke jenjang tahfidz atau hafalan dan bahasa arab dasar untuk umum. Kami mengajak untuk bersama - sama mewujudkan insan-insan terbaik yang memahami pedoman hidupnya yaitu al-quran dengan mempelajari dan mengajarkannya.

1. Visi 

“ Mencetak muslimah yang mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah”

2. Misi 

“Menyelenggarakan program pembelajaran Al Qur’an (Tahsin, Tahfizh,  Bahasa Arab) dan kajian kemuslimahan yang dikemas khusus muslimah”

3. Program

Program yang diselenggarakan  di Baitul Quran Azzakiyyah adalah :
     Belajar Al-Quran dari Nol.
o    Program belajar membaca Al-quran dari dasar dengan menggunakan metode Al-Ihsan.
     Perbaikan Bacaan Al-Quran.
o    Program belajar Al-Quran yang menitik beratkan pada perbaikan bacaan Al-quran
     Hafalan Al-Quran.
o    Program pendampingan menghafal Al-quran secara sistemstik.
     Bahasa Arab Dasar dan Lanjutan.
o    Program belajar bahasa arab dari tingkat dasar,nahwu, haraf, percakapan dan baca kitab.
     Kajian Fiqih Wanita.
o    Kajian fiqih yang mengupas masalah wanita dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari.
     Kajian Al-Quran.
o    Motifasi dan kaidah-kaidah al-quran dalam kehidupan dan jiwa.
     Pendampingan Kesembuhan dengan Al-Quran.
o    Program pendukung kesembuhan dengan penguatan jiwa dan al-quran.



Untuk Informasi dan pendaftaran Kajian bisa menghubungi: 
WA 0858 5442 8686
Rumah Belajar Islam Ganjuran 
Gedogan rt:03
Kaligondang, Sumbermulyo,
Bambanglipuro, Bantul Regency,
Special Region of Yogyakarta 55764

Sabtu, 16 Juni 2018

Membaca Al-Quran dari Mushaf Lebih Utama dari Handphone/Aplikasi


Kemudahan di zaman ini adalah adanya aplikasi Al-Quran di gadget dan HP yang memudahkan orang membaca Al-Quran di mana saja, karena umumnya manusia lebih ingat dan lebih mudah membawa gadget/HP daripada membawa mushaf, mengingat gadget adalah kebutuhan pokok manusia di zaman ini.


Silahkan baca juga :
Ilmu Yang Baik Akan Membuahkan Amal Yang Baik
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja 
Info kajian jogja

Perlu diketahui bahwa ada ulama yang berpendapat bahwa membaca Al-Quran lebih baik dan lebih utama daripada membacanya di Aplikasi/gadget, sehingga hendaknya kita sebisa mungkin membaca Al-Quran dari mushaf jika memungkinkan.

Dalilnya adalah hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan membaca dari mushaf,

ﻣﻦ ﺳﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺤﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﻓﻠﻴﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ

“ Siapa yang ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bacalah mushaf .”[1]

Demikian juga pendapat Syaikh Khalid Al-Mushlih. Beliau ditanya,

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ :
ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ : ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ؟

“Mana yang lebih utama membaca Al-Quran dari handphone/gadget atau dari mushaf?”

ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ :
ﺑﺎﻟﺘﺄﻛﻴﺪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺃﻓﻀﻞ، ﻭﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮًﺍ، ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﻋﺒﺎﺩﺓ، ﻟﻜﻦ ﻣﻴﺰﺓ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﺄﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺃﻳﺴﺮ ﻟﻬﻢ، ﻭﺃﻳﻀًﺎ ﻻ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ ﺇﻟﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺟﻬﺰﺓ ﺍﻟﺤﺪﻳﺜﺔ ﺃﻳﺴﺮ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻗﺎﺕ ﻭﺃﻣﺎﻛﻦ ﺍﻻﻧﺘﻈﺎﺭ، ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺘﻴﺴﺮ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ

“Tentu saja membaca dari mushaf lebih utama bahkan lebih besar pahalanya. Melihat pada mushaf adalah ibasah, akan tetapi keistimewaan membaca dari handphone adalah lebih mudah, dan juga tidak mengharuskan memegang handphone (aplikasi Al-Quran) dalam keadaan suci. Oleh karena itu membaca dengan gadget modern seperti ini lebih memudahkan bagi manusia daripada membaca melalui mushaf. Lebih-lebih pada kondisi sedang menunggu (antri pada suatu tempat) di mana tidak memungkinkan bagi manusia membaca dari mushaf.” [2]

Bahkan syaikh Shalih Al-Fauzan menegaskan jika ada mushaf dan Ada handphone, maka pilihlah membaca dengan mushaf, beliau berkata,

ﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮﻑ ﺍﻟﺬﻱ ﻇﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ، ﺍﻟﻤﺼﺎﺣﻒ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻣﺘﻮﻓﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺑﻄﺒﺎﻋﺔ ﻓﺎﺧﺮﺓ ، ﻓﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﻟﻠﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﻝ

“Ini termasuk kemewahan pada manusia (memakai handphone). Mushaf sangat banyak di masjid dengan cetakan yang bagus. (Dalam keadaan ini) tidak perlu membaca dengan handphone.”[3]

Kesimpulan dan catatan:

1. Kita usahakan semampu kita membaca Al-Quran dari mushaf

2. Bagi yang bisa membaca Al-Quran ukuran saku, ini lebih baik karena ia bisa membawa Al-Quran ke mana saja

3. Al-Quran dalam aplikasi lebih memudahkan bagi mereka yang mungkin susah membawa Al-Quran ukuran besar ke mana-mana sehingga bisa saja ia baca dari aplikasi

4. Al-Quran dalam aplikasi juga memudahkan wanita haid dan nifas serta yang tidak dalam keadaan suci untuk membaca Al-Quran karena hukumnya berbeda antara mushaf dengan Al-Quran di aplikasi. Salah satu pendapat ulama adalah menyentuh mushaf harus dalam keadaan suci.

@ Masjid Ibnu Sina, FK UGM

Penyusun: Raehanul Bahraen

Catatan kaki:

[1]  Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah , no. 2342. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan

[2] Sumber: https://almosleh.com/ar/index-ar-show-14405.html

[3] Sumber: https://islamqa.info/ar/106961

Sumber muslim.or

Jumat, 16 Maret 2018

Ilmu Yang Baik Akan Membuahkan Amal Yang Baik

Sumber : Mizan


Kita semua tahu bahwa sains adalah sesuatu yang sangat mulia. Dalam agama kita, pengetahuan didasarkan pada dasar pemujaan Tuhan. Ada begitu banyak ayat dan hadits yang menjelaskan keindahan pengetahuan.

Silahkan baca juga : 
Info Kajian Jogja Muslimah
Shalat bersama setan dengan membiarkan shaf kosong
Kemuliaan Wanita Dengan Berjilbab

Di antara mereka:

Pertama , Allah berbicara di dalam Al Qur'an

فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات

"Ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosa dan dosa orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan" (QS. Muhammad: 19)

Dalam ayat di atas, Allah Ta'ala menginstruksikan "untuk mengenali " terlebih dahulu, sebelum kemudian terjun ke dalam wilayah pemujaan. Ini menunjukkan bahwa sains adalah fondasi, pondasi dan modal utama, dalam menyembah Tuhan.

Penyembahan yang disebutkan dalam ayat di atas adalah ibadah istighfar , yang bisa ditafsirkan sebagai keseluruhan ibadah yang harus didahului oleh pengetahuan.

Kedua, ayat Alquran di surah Ali Imran

شهد الله أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولو العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم

"Tuhan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang layak untuk disembah selain Dia, yang menegakkan keadilan. Malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan (juga mengatakan itu) "   (QS Ali Imran: 18)

Perhatikan ayat ini [ orang-orang berpengetahuan (juga mengklaim dirinya) ] , Allah menggabungkan kesaksian-Nya dengan kesaksian orang-orang yang terpelajar dan para malaikat, dalam kesatuan-Nya. Ini adalah posisi yang cukup seperti ini sebagai bukti yang membuat orang percaya menyadari pengetahuan terakhir mereka.

Ketiga , al-Quran surah Az-Zumar

قل هل يستويالذين يعلمون والذين لا يعلمون

"Katakanlah," Di antara orang-orang yang berpengetahuan luas dengan orang-orang yang tidak tahu? ""  (QS Az Zumar: 9)

Ayat ini berarti inkarnasi tinta , yang berarti " Tentu tidak sama dengan mereka yang berpengetahuan dan siapa yang tidak. "



Keempat , Al Quran surah Al Mujadillah ayat 11.

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير

"Allah akan membangkitkan orang-orang percaya di antara kamu dan mereka yang telah diberi pengetahuan tertentu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " (QS Al-Mujadillah: 11)

Kelima , Al-Quran surah Al-Maidah ayat 4.

يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات وما علمتم من الجوارح مكلبين تعلمونهن مما علمكم الله فكلوا مما أمسكن عليكم واذكروا اسم الله عليه

"Mereka bertanya kepada Anda:" Apa halal untuk mereka? ". Katakanlah: "Halal bagimu dan binatang yang diburu oleh binatang yang telah kamu ajarkan dengan pelatihannya untuk berburu; Anda mengajarinya sesuai dengan apa yang telah Tuhan ajarkan kepada Anda. Kemudian makanlah dari apa yang dia ambil untukmu, dan panggillah nama Allah untuk binatang itu (saat dia melepaskannya). " (QS Al Maidah: 4)

Bayangkan, anjing yang berpengetahuan hanya Tuhan yang menghormatinya dari orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan. Ayat di atas menjelaskan kepada kita binatang pemburu halal bahwa anjing terlatih dipanggil dan disebut nama Allah saat mengeluarkannya, hukumnya halal dimakan. Inilah bentuk mulia anjing yang berpengetahuan luas. Jadi, jika binatang itu bisa mulia untuk pengetahuan, lebih banyak manusia, sebagai makhluk mulia binatang!

Keenam , hadits Umm Salamah radhiyallahu'anha .

Nabi  sallallaahu 'alaihi wasallam  saat shalat selesai shubuh setelah salamnya berbunyi:

اللهم إني أسألك علما نافعا ورزقا طيبا وعملا متقبلا

"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadamu manfaat dari pengetahuan, hal-hal baik dan perbuatan baik yang kamu terima." [1]

Amati permintaan pertama dalam doa biasa S halallahu'alaihi wa sallam pada hari pembukaan. Hal pertama yang dia tanyakan adalah ilmu yang bermanfaat. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan adalah modal untuk mendapatkan rizki yang baik dan baik, serta perbuatan baik yang diterima Allah.

Kita harus menyadari Dengan itu, kemuliaan ilmu-ilmu di atas tidak ada artinya, bila kita cacat dalam satu hal, amal. Ya, tidak ada amal seperti pohon buah . Pembawa sains tidak akan mulia jika pengetahuan yang dia pelajari tidak menghasilkan amal.

Dalam tulisan ini, Anda akan mendapatkan beberapa poin bukti yang memperkuat pesan ini, bahwa sains tidak akan berbuah bila tidak berlatih.

Washallahu wa sallam 'ala Nabiyyina Muhammad.

***

Referensi: Tsamaroh Al-Ilmi Al-Amal , oleh Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al-'Abbad -hafidzohumallah ta'ala-.



Penulis: Ahmad Anshori, Lc
Artikel: Muslim.or.id



Catatan kaki

[1] HR. Ibnu Majah, tidak. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini shahih

Senin, 08 Januari 2018

Baitul Quran Azzakiyyah



          Baitul Quran Azzakiyyah adalah da’wah yang bergerak dalam bidang pendidikan Al-Quran, bahasa arab dan kajian keislaman dasar untuk masyarakat umum. Pembelajaran di Azzakiyyah dirancang khusus untuk muslimah berbasasis metode pengajaran isalam untuk orang dewasa. Pembelajaran dimulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjut dengan menghadirkan pengajar professional lulusan LIPIA yang sudah berpengalaman dalam mengajar.

          Azzakiyyah  hadir menjadi solusi bagi muslimah yang mempunyai keinginan kuat untuk belajar al-quran, mulai dari belajar membaca, membenarkan bacaan, sampai ke jenjang tahfidz atau hafalan dan bahasa arab dasar untuk umum. Kami mengajak untuk bersama - sama mewujudkan insan-insan terbaik yang memahami pedoman hidupnya yaitu al-quran dengan mempelajari dan mengajarkannya.

1. Visi 

“ Mencetak muslimah yang mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah”

2. Misi 

“Menyelenggarakan program pembelajaran Al Qur’an (Tahsin, Tahfizh,  Bahasa Arab) dan kajian kemuslimahan yang dikemas khusus muslimah”

3. Program

Program yang diselenggarakan  di Baitul Quran Azzakiyyah adalah :


o   Program belajar membaca Al-quran dari dasar dengan menggunakan metode Al-Ihsan.
     Perbaikan Bacaan Al-Quran.
o   Program belajar Al-Quran yang menitik beratkan pada perbaikan bacaan Al-quran
     Hafalan Al-Quran.
o   Program pendampingan menghafal Al-quran secara sistemstik.
     Bahasa Arab Dasar dan Lanjutan.
o   Program belajar bahasa arab dari tingkat dasar,nahwu, haraf, percakapan dan baca kitab.
     Kajian Fiqih Wanita.
o   Kajian fiqih yang mengupas masalah wanita dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari.
     Kajian Al-Quran.
o   Motifasi dan kaidah-kaidah al-quran dalam kehidupan dan jiwa.
     Pendampingan Kesembuhan dengan Al-Quran.
o   Program pendukung kesembuhan dengan penguatan jiwa dan al-quran.

Pusat dan Info Kajian Muslimah Jogja Azzakiyah



Baitul Quran Azzakiyyah adalah dakwah yang terlibat dalam bidang pendidikan Alquran , bahasa Arab dan studi dasar Islam untuk masyarakat umum yang berbasis di Jogja. Kurikulum yang diajarkan di Azzakiyah meliputi: Belajar Quran dari nol, Membaca Alquran, Pembacaan Alquran, Bahasa Arab dan Maju, Studi Fiqih Islam, Studi Al-Quran , dan Pertemuan Penyembuhan dengan Al-Quran.

Alamat Az-Zakiyyah

Gedongan rt: 03, Kaligondang, Sumbermulyo, 
Bambanglipuro, Bantul Regency,
Special Region of Yogyakarta 55764

Untuk informasi dan registrasi bisa menghubungi:

WA        0858 5442 8686
Kontak  085868441275

Senin, 27 November 2017

Hukum Membeli Daging Sembelihan Orang Yang Tidak Shalat




BOLEHKAH MEMBELI DAGING SEMBELIHAN ORANG YANG TIDAK SHALAT ?

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Pertanyaan.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Kami membeli daging dari para jagal, dan kami tidak mengetahui apakah mereka melakukan shalat ataukah tidak. Namun kami cenderung menyangka. Mereka tidak shalat, karena kami tidak melihat mereka di masjid-masjid yang berdekatan dengan mereka, sedangkan kami pernah menanyakan kepada mereka tentang orang yang melakukan penyembelihan itu, dan mereka menjawab : “Kami yang menyembelih”. Bolehkah membeli daging dari mereka, setelah mengira bahwa mereka tidak shalat? Berilah fatwa kepada kami. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada anda.

Baca Juga:
Info Kajian Jogja
Pusat Kajian Muslimah Jogja
Info Beasiswa Tahfiz Al-Quran

Jawaban
Daging yang dijual di pasar-pasar kaum muslimin dari hewan-hewan yang disembelih di negera-negara Islam hukum asalnya adalah halal, alhamdulillah. Dan tidak perlu ditanyakan tentangnya, selama belum jelas atau tidak terbukti bahwa daging itu berasal dari sembelihan yang tidak sesuai syari’at.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang satu kaum yang baru masuk Islam, mereka membawa daging ke pasar-pasar kaum muslimin, dan tidak diketahui apakah mereka menyebut nama Allah ketika menyembelih ataukah tidak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban.

سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ

“Hendaklah kalian membaca bismillah dan makanlah” [Hadits Riwayat Bukhari 6/226 dari Aisyah Radhiyallahu anhuma]

Maksudnya, bacaan basmalah ketika hendak makan. Sehingga keraguan yang ada pada benak para penanya tidak memiliki kesempatan untuk menjadikan daging-daging itu haram, wallahu a’lam.

Sedangkan kondisi orang-orang yang dipertanyakan yang meremehkan shalat berjama’ah, tidak mesti mengakibatkan hasil sembelihan mereka menjadi haram. Karena meninggalkan shalat berjama’ah, meskipun itu merupakan perbuatan haram (berdosa), namun perbuatan itu tidak mengeluarkan dari Islam, dan pelakunya tidak dianggap kafir.

(Kitab Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy Syaikh Shalih bin Fauzan, 5/324)

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun IX/1427/2006M, Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Puwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Sumber: almanhaj.or.id

Jumat, 17 November 2017

Beasiswa Program Menghafal Al-Qur'an selama 1 tahun



🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

KABAR GEMBIRAAA...🔉🔉🔉🔉

Yayasan Rahmat Qur'anic Learning Center (RQLC), Cab. Yogyakarta
🏡 jln. Kaliurang km 14 Perumahan IDI Pamungkas no. 11 Yogyakarta

kembali membuka kesempatan bagi sahabat2 yang ingin menghafal Al-Quran.



🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Program Beasiswa Menghafal Al-Qur'an selama 1 tahun"

 Gratiissssss.....😍😍😍
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

🌵 Persyaratan:
1.  Muslimah
2.  Usia 17-29 tahun
3.  Single/belum menikah
4.  Berpenampilan syar'i
5.  Berkelakuan baik
6.  Mampu membaca Alquran dg baik dan benar
7.  Memiliki hafalan min. 2 juz
8.  Memiliki tekad yang kuat untuk menghafal dan memperdalam agama
9.  Siap untuk dibina
10. Takhossus (tidak sambil bekerja/kuliah)
11. Siap menyelesaikan hafalan min. 10 juz mutqin (siap uji) selama 1 tahun
12. Lulus seleksi

🌵 Persyaratan lainnya:
- CV lengkap
- Pas foto ukuran 3x4
- Fotocopy KTP (2 rangkap)
- Fotocopy Akte lahir (1 rangkap)
- Surat Keterangan sehat
- Uang Pendaftaran 500rb

🌿 Fasilitas yg diberikan secara gratis:
1. Tempat Tinggal nyaman
2. Makan
3. Biaya pendidikan selama 1 tahun
4. Kursus Bahasa Arab
5. Bimbingan untuk Penambahan Tsaqofah Islamiyah

🗓 Waktu Pendaftaran *:
Gelombang 1 : 1-15 November 2017
Gelombang 2: 16-30 November 2017
*pendaftaran ditutup jika kuota telah terpenuhi

Penanggung Jawab RQLC Yogyakarta:
Isnaini Mangasiroh, Lc

Bagi yang berminat, silahkan hubungi ke no. di bawah ini 👇🏻
📞 0812-8400-3149
📱 085691843919

Ayooo buruaaan !!!
Segera  daftarkan diri anda.
Kuota terbataaas...
Hanya untuk 10 Santriwati terbaik

Formulir Pendaftran
klik Pendaftaran Beasiswa Tahfiz Al-Quran Jogja

Minggu, 29 Oktober 2017

Mendidik Anak dengan Penuh Kelembutan – Bimbingan Islam (Ustadz Jazuli, Lc.)

Mendidik Anak dengan Penuh Kelembutan – Bimbingan Islam (Ustadz Jazuli, Lc.)




Kajian Islam oleh: Ustadz Jazuli, Lc.
Berikut ini rekaman kajian Bimbingan Islam yang disampaikan oleh Ustadz Jazuli, Lc. dengan pembahasan tentang “Mendidik Anak dengan Penuh Kelembutan“. Kajian ini disiarkan live pada Rabu sore, 6 Syaban 1438 / 3 Mei 2017.

Baca Artikel Sebelumnya:

Ringkasan Kajian Bimbingan Islam: Mendidik Anak dengan Penuh Kelembutan

Kelembutan adalah sebab syari yang dengannya Allah Ta’ala akan memberikan banyak sekali kebaikan kepada kita. Di antaranya adalah Allah Ta’ala akan menjadikan anak kita anak yang shalih selama kita mendidiknya dengan penuh kelembutan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ اللهَ رفيقٌ يحبُّ الرِّفقَ، ويُعطي على الرِّفقِ ما لا يُعطي على العنفِ، وما لا يُعطِي على ما سواه
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Dan Allah akan memberikan banyak sekali kebaikan dari kelembutan yang tidak Allah berikan kepada sikap kasar, dan sifat lainnya..”
Lembut adalah kunci kebaikan. Seorang yang mendidik anak, jika ingin sukses maka wajib baginya mendidik dengan lembut. Makanya Allah ketika menyebut tentang seorang pendidik, Allah sebut dengan kata Rabbani. Rabbani di sini maksudnya adalah orang-orang yang faqih dan lembut.
Jadi bekal ilmu saja tidak cukup untuk mendidik anak, ketika mengajarkannya kita dituntut untuk lembut kepada mereka. Agar anak-anak bisa mendapatkan ilmu yang kita ajarkan tersebut.
Simak penjelasan selengkapnya mengenai “Mendidik Anak dengan Penuh Kelembutan” ini di dalam rekaman kajian yang disampaikan oleh Ustadz Jazuli, Lc. berikut ini.

Download Rekaman Kajian Bimbingan Islam: Mendidik Anak dengan Penuh Kelembutan

Wajibnya Berlaku Adil terhadap Anak – Bimbingan Islam (Ustadz Jazuli, Lc.)




Kajian Islam oleh: Ustadz Jazuli, Lc.
Berikut ini rekaman kajian Bimbingan Islam yang disampaikan oleh Ustadz Jazuli, Lc. dengan pembahasan tentang “Wajibnya Berlaku Adil terhadap Anak“. Kajian ini disiarkan live pada Rabu sore, 13 Syaban 1438 / 10 Mei 2017.



Baca artikel sebelumnya :
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja
Hukum Syar'i Memanjangkan Dan Mengecat Kuku
Apakah Mencium Kening Ibu Bagian Dari Sunnnah Atau Hadist Palsu?

Ringkasan Kajian Bimbingan Islam: Wajibnya Berlaku Adil terhadap Anak

Berlaku adil terhadap anak-anak kita adalah kewajiban bagi kita. Bahkan Imam Ahmad rahimahullah menyampaikan bahwa haram memperlakukan anak-anak dengan tidak adil. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk senantiasa adil kepada anak-anak kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اعدلوا بين اولادكم، اعدلوا بين اولادكم، اعدلوا بين اولادكم
“Bersikap adillah terhadap anak-anak kalian, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian, bersikap adillah terhadap anak-anak kalian”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai tiga kali mengulangi perintah agar kita adil kepada anak-anak kita. Hal ini juga disampaikan kepada para sahabat beliau.
Kita dituntut adil dalam segala hal, baik itu dalam pemberian hadiah atau yang lainnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras sikap tidak adil kepada anak-anak kita. Bahkan beliau mengingatkan sahabatnya untuk ebrtakwa kepada Allah tatkala ada di antara mereka yang kurang adil terhadap anak-anak mereka.
Simak penjelasan selengkapnya mengenai “Wajibnya Berlaku Adil terhadap Anak” ini di dalam rekaman kajian yang disampaikan oleh Ustadz Jazuli, Lc. berikut ini.

Download Rekaman Kajian Bimbingan Islam: Wajibnya Berlaku Adil terhadap Anak

Sabtu, 28 Oktober 2017

Hukum Syar'i Memanjangkan Dan Mengecat Kuku

HUKUM MEMANJANGKAN DAN MENGECAT KUKU



Pertanyaan.

Apa hukum memanjangkan kuku dengan tetap merawatnya atau hukum mengecatnya serta hukum menghilangkan cat itu ketika tiba waktu shalat?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab:

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengingatkan kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin tentang masalah mencontoh kebiasaan-kebiasaan orang kafir. Karena sesungguhnya, mengikuti adat kebiasaan mereka dan menyerupai mereka atau sama dengan mereka dalam penampilan yang zahir itu terkadang bisa menyeret si pelaku untuk sama dengan mereka dalam masalah yang tidak terlihat mata. Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai sekelompok kaum maka dia termasuk golongan mereka. [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Baca juga :
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja
Apakah Mencium Kening Ibu Bagian Dari Sunnnah Atau Hadist Palsu?
Kenapa Setelah Menikah Istri Terlihat Kalah Cantik Dibanding Wanita Lain? Ini Penjelasan Nabi


Maka wajib bagi seorang Muslim untuk bangga dan merasa mulia dengan agamanya, memiliki  kepribadian yang kuat serta tidak menjadikan dirinya sebagai pengekor yang terus mengikuti orang lain.

Mengenai hukum memanjangkan kuku yang ditanyakan oleh penanya, maka itu termasuk kebiasaan orang-orang kafir yang kita dilarang mengikutinya.

Memanjangkan kuku termasuk menyelisihi fithrah. Apabila kuku itu panjang maka akan menempel padanya berbagai macam kotoran. Kuku yang panjang tersebut akan menjadikan manusia yang mempunyai kedudukan mulia disisi Allâh Azza wa Jalla ini seakan menyerupai seekor hewan. oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika ditanya tentang hukum menyembelih binatang dengan menggunakan batu dan bambu atau yang semisalnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَا أَنْهَرَ الدَّمَ، وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ، فَكُلْ غَيْرَ السِّنِّ، وَالظُّفْرِ، فَإِنَّ السِّنَّ عَظْمٌ، وَالظُّفْرَ، مُدَى الْحَبَشَةِ

Apa saja yang bisa mengalirkan darah dan disebutkan nama Allâh Azza wa Jalla padanya (dibacakan bismillah-red) maka makanlah oleh kalian kecuali gigi dan kuku maka sesungguhnya gigi itu tulang sementara kuku adalah pisau besar orang-orang Habasyah. [HR. Muslim]

Maksudnya, Habasyah itu adalah mereka yang membiarkan kuku-kukunya memanjang sehingga bisa digunakan untuk menyembelih binatang, sehingga keadaan mereka menyerupai binatang buas. Oleh karena itu, kita tidak pantas menyerupai mereka (dengan memanjangkan kuku-red).

Disamping itu, memanjang kuku juga menyelisihi fithrah yang berarti juga menyelisihi syariat Islam.  Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi waktu kepada umatnya supaya tidak membiarkan kuku-kuku, kumis, rambut kemaluan, serta bulu ketiak melebihi 40 hari.

Kesimpulannya, kita wajib menghindari prilaku-prilaku yang menyerupai orang-orang kafir secara mutlak.

Adapun masalah yang kedua yang ditanyakan yaitu masalah mengecat atau menempelkan sesuatu di atas kuku yang bisa menghalangi sampainya air ke kuku tersebut maka hukumnya haram, kecuali apabila seorang perempuan yang dalam keadaan tidak boleh shalat (karena haid atau semisalnya), maka da diperbolehkan menempelkan sesuatu di atas kukunya. (Dengan catatan-red), apabila itu bukan termasuk ciri khas perempuan kafir. Jika itu termasuk ciri khas wanita kafir, maka tidak boleh untuk menyerupai mereka.

Sedangkan wanita yang dalam keadaan suci (dari haidh atau semisalnya) maka tidak diperbolehkan baginya untuk menempelkan apapun di atas kukunya yang bisa menghalangi sampainya air wudlu ke kuku tersebut, meskipun itu dilakukan hanya dalam waktu sau shalat saja.

Sungguh sangat disayangkan, beredarnya satu pemahaman yang menyatakan bahwa kaum wanita boleh menempelkan sesuatu (yang bisa menghalangi air wudlu -red) di atas kukunya dalam jangka waktu sehari semalam. Karena masalah ini diqiaskan (disamakan) dengan hukum memakai khuf (sepatu yang terbuat dari kulit atau semisalnya yang menutup mata kaki). Namun,  qias seperti ini termasuk qias yang salah dan bertentangan dengan nash. Sebab  memakai khuf dalam jangka waktu sehari semalam tujuannya untuk menjaga kedua kaki terutama di waktu musim dingin, sementara tangan tidak sama seperti kaki. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan dari Sahabat Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu bahwa dia pernah menuangkan air wudhu kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai jubah yang sempit lengan bajunya maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengeluarkan tangannya dari arah bawah lengan tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kalau mengusap tangan diperbolehkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu pasti dalam keadaan seperti ini yaitu sulit membuka lengan baju dari lengan tangan untuk membasuh tangan lebih pantas untuk diperbolehkan mengusapnya saja.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari Fatâwâ Manâril Islâm karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 82-83


Sumber: almanhaj.com

Apakah Mencium Kening Ibu Bagian Dari Sunnnah Atau Hadist Palsu?


Penjelasan mengani HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN MENCIUM KENING IBU

Oleh

Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

     رُوِيَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَقَالَ: مَنْ قَبَّلَ بَيْنَ عَيْنَيْ أُمِّهِ كَانَ لَهُ سَتْراً مِنَ النَّارِ

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mencium (kening) di antara kedua mata ibunya maka itu akan menjadi penghalang baginya dari api Neraka.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi[1], Imam al-Baihaqi[2] dan Imam Ibnul Jauzi[3], dengan sanad mereka dari jalur Muhammad bin ‘Aqil bin Khuwailid, dari Abu Shalih Khalaf bin Yahya al-‘Abdi, dari Abu Muqatil, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Abi Rawwad, dari ‘Abdullah bin Thawus, dari bapaknya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca juga :
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja
Kenapa Setelah Menikah Istri Terlihat Kalah Cantik Dibanding Wanita Lain? Ini Penjelasan Nabi
Perempuan adalah Madrasah Kehidupan


Hadits ini adalah hadits palsu, dalam sanadnya terdapat rawi-rawi yang sangat lemah bahkan pendusta.

1. Abu Muqâtil, dia adalah Hafsh bin Salm as-Samarqandi. Tentang orang ini, imam Ibnu ‘Adi rahimahullah berkata, “Dia bukan termasuk orang yang bisa dijadikan sandaran dalam riwayat hadits.”

Bahkan Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Imam Qutaibah rahimahullah menyatakan bahwa dia sangat lemah (dalam meriwayatkan hadits) dan Imam Ibnu Mahdi menyatakannya sebagai pendusta.”[4]

2. Abu Shalih Khalaf bin Yahya al-‘Abdi. Imam Abu Hatim rahimahullah berkata tentangnya, “Hadits (riwayat)nya ditinggalkan (karena kelemahannya yang sangat fatal), dia seorang pendusta.”[5]

3. Riwayat ‘Abdul ‘Aziz bin Abi Rawwad dari ‘Abdullah bin Thawus bukanlah riwayat yang lurus (shahih), sebagaimana penjelasan Imam Ibnu ‘Adi.[6]

Para ulama Ahli hadits menghukumi hadits ini sebagai hadits yang sangat lemah bahkan palsu.

Imam Ibnu ‘Adi berkata, “Hadits ini mungkar (sangat lemah) sanad dan matan (isi)nya.”

Imam al-Baihaqi berkata, “Sanad hadits ini tidak kuat.”

Imam adz-Dzahabi juga mengisyaratkan kelemahan hadits ini yang sangat fatal.[7]

Bahkan para ulama lainnya menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam asy-Syaukani dan Syaikh al-Albani[8].

Kemudian dari segi matan (isi) hadits, ini juga mungkar dan batil (rusak), sebagaimana ucapan Imam Ibnu ‘Adi t yang telah kami nukil di atas, karena keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini terlalu berlebihan. Dan di antara ciri-ciri hadits palsu adalah menjelaskan keutamaan suatu amal secara berlebihan.[9]

Meskipun tentu saja banyak ayat al-Qur’an dan hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan besarnya keutamaan menyayangi, mencintai dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, terutama Ibu. Dan cukuplah ini sebagai argumentasi yang memotivasi kita untuk melakukan berbagai macam bentuk kebaikan dan perbuatan bakti kepada mereka, sehingga kita tidak perlu berargumentasi dengan hadits-hadits yang lemah, apalagi palsu, seperti hadits di atas.

Di antara ayat dan hadits tersebut adalah:

1. Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan [Al-Ahqâf/46:15]

2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:

يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ قَالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوْكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

Wahai Rasûlullâh! Siapakah orang yang paling berhak atau pantas untuk mendapat perlakuan baik (dariku)? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, lalu setelah itu ayahmu, kemudian orang-orang yang terdekat denganmu.”[10]

Adapun mencium kening orang yang kita cintai dan sayangi, baik itu ibu ataupun selainnya, maka itu diperbolehkan, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sahabat yang mulia, Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.[11]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Dalam kitab al-Kâmil fi Dhu’afâ-ir Rijâl, 2/393

[2] Dalam kitab Syu’abul Imân, 6/187

[3] Dalam kitab al-Maudhû’ât, 3/86

[4] Lihat al-Kâmil fi Dhu’afâ-ir Rijâl, 2/393 dan Mîzânul I’tidâl, 1/557

[5] Kitab al-Jarhu wat Ta’dîl, 3/372

[6] Dalam kitab al-Kâmil fi Dhu’afâ-ir Rijâl, 2/393

[7] Lihat kitab Mîzânul I’tidâl, 1/557

[8] Lihat al-Maudhû’ât, 3/86; al-Fawâ-idul Majmû’ah, no. 37 dan 128 dan Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah, 3/396, no. 1245

[9] Lihat penjelasan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Manârul Munîf, hlm. 47

[10] HSR. Muslim, no. 2548

[11] HR. An-Nasa-i, 4/11 dan Ibnu Majah, no. 1627. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah.


Sumber: https://almanhaj.or.id/7565-hadits-palsu-tentang-keutamaan-mencium-kening-ibu.html

Jumat, 27 Oktober 2017

Kenapa Setelah Menikah Istri Terlihat Kalah Cantik Dibanding Wanita Lain? Ini Penjelasan Nabi

Anda ikhwan yang sudah menikah? merasa bahwa kecantikan istri sudah tidak seperti ketika masih gadis? berikut penjelasannya



SEORANG suami mengadukan apa yang ia rasakan kepada seorang syekh.

Dia berkata: “Ketika aku mengagumi calon istriku seolah-olah dalam pandanganku Allah tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik daripadanya di dunia ini.

“Ketika aku sudah meminangnya, aku melihat banyak perempuan seperti dia. Ketika aku sudah menikahinya, aku lihat banyak perempuan yang jauh lebih cantik daripada dirinya.

“Ketika sudah berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis daripada istriku.”

Syekh berkata: “Apakah kamu mau aku beritahu yang lebih dahsyat daripada itu dan lebih pahit?”

Laki-laki penanya: “Iya, mau.”

Syekh: “Sekalipun kamu menikahi seluruh perempuan yang ada di dunia ini pasti anjing yang berkeliaran di jalanan itu lebih cantik dalam pandanganmu daripada mereka semua.”
Related Posts

Laki-laki penanya itu tersenyum masam, lalu ia berujar: “Kenapa tuan Syekh berkata demikian?”

Syekh: “Karena masalahnya terletak bukan pada istrimu. Tapi masalahnya adalah bila manusia diberi hati yang tamak, pandangan yang menyeleweng, dan kosong dari rasa malu kepada Allah, tidak akan ada yang bisa memenuhi pandangan matanya kecuali tanah kuburan.

‘Rasulullah bersabda: ‘Andaikan anak Adam itu memiliki lembah penuh berisi emas pasti ia akan menginkan lembah kedua, dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa yang mau bertaubat.’

“Jadi, masalah yang kamu hadapi sebenarnya adalah kamu tidak menundukkan pandanganmu dari apa yang diharamkan Allah.

“Sekarang, apakah kamu menginginkan sesuatu yang akan mengembalikan kecantikan istrimu seperti pertama kali kamu mengenalnya? Ketika ia menjadi wanita tercantik di dunia ini?”

Laki-laki penanya: “Iya, mau sekali.”

Syekh: “Tundukan pandanganmu.”

Baca Juga
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja
Perempuan adalah Madrasah Kehidupan
Denmark Berencana Ikuti Negara Uni Eropa lainnya, Larang Penggunaan Cadar Muslimah


Artikel ini beredar viral di media sosial. Kami mendapatkannya dari islampos.com

Rabu, 25 Oktober 2017

Perempuan adalah Madrasah Kehidupan


Tangerang (Syaikh Al Ausy) ‘’Masya Allah,’’ ucap spontan Syaikh Al-Ausy saat melihat asaatidzah (guru-guru perempuan) di Pesantren tahfizh Daarul Quran. ‘’Kita harus berterima kasih kepada mereka, karena wanita adalah madrasah kehidupan. Jika perempuan atau ibu mendidik anak-anak dengan baik, maka akan terbangun peradaban yang baik,’’ tutur imam masjid bersuara emas dari Saudi Arabia itu.

Baca juga :
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja
Mengenal Imam Muslim Seorang Ahli Hadits (Perowi = Periwayat) Yang Sangat Masyhur Di Samping Imam Bukhori
Denmark Berencana Ikuti Negara Uni Eropa lainnya, Larang Penggunaan Cadar Muslimah

Seperti disebutkan dalam Kitab Daurul Mar-ati fi Ishlaahil Mujtama’, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata, “Sesungguhnya kaum wanita memiliki peran yang agung dan penting dalam upaya memperbaiki (kondisi) masyarakat, hal ini dikarenakan (upaya) memperbaiki (kondisi) masyarakat itu ditempuh dari dua sisi;

Yang pertama, perbaikan (kondisi) di luar (rumah), yang dilakukan di pasar, mesjid dan tempat-tempat lainnya di luar (rumah). Yang kedua, perbaikan di dalam rumah sebagai  pendidik anak-anak.

Kehadiran Syaikh Abdurrahman bin Jamal bin Abdurrahman Al-Ausy di Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran, Ketapang, Tangerang, Rabu (11/10), disambut gema shalawat badar yang disenandungkan seribuan santri.

Imam Masjid Al Ikhlas dan Al Khobar di Qornich City, Arab Saudi, tersebut diterima hangat oleh KH Yusuf Mansur dan Tim Asaatidz Daarul Quran.

Syaikh yang doktor di bidang Al Quran  terlebih dulu menengok Markaz I’dad Muallimi Al Qur’an Al Karim wal Ijazah bi Sanad (Pusat Pengkaderan Pengajar Al Qur’an Al Karim dan Ijazah Sanad) di areal Masjid An Nabawi, Pesantren Daarul Quran.

Ia mangut-manggut mengapresiasi keseriusan pesantren yang dikelola oleh Yayasan Tahfizh Quran terbaik di dunia.

Di hadapan segenap warga pesantren, Syaikh Al Ausy bersyukur dan mengucapkan terima kasih khususnya kepada KH Yusuf Mansur yang telah memberi sambutan hangat.

Kunjungan ini merupakan kali kedua bagi Syaikh Al Ausy. Sebelumnya, imam yang biasa mengenakan thawb (gamis putih polos) dan ghutra (syal kepala) ini pernah bermuhibah ke Indonesia pada 2016.

Ketua Daarul Quran Tarmizi Asshidik menerangkan, safari Syaikh kelahiran 5 Agustus 1980 ini guna menghadiri Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Al Quran ke-8. Hajatan nasional yang digelar Daarul Quran ini akan dihelat serentak di 12 Provinsi dan 15 negara pada 22 Oktober 2017.

Selain ke Pesantren Daarul Quran Tangerang, Syaikh Ausy pada Rabu (11/10) malam mengimami shalat di Masjid Alumni IPB di Baranangsiang, Kota Bogor. Selanjutnya, ia akan berkunjung ke beberapa daerah seperti Lombok Tengah, Makassar, Jogjakarta, Bandung, dan lainnya.[RN]

Denmark Berencana Ikuti Negara Uni Eropa lainnya, Larang Penggunaan Cadar Muslimah



Denmark akan segera menjadi negara Eropa berikutnya yang menerapkan aturan pelarangan jilbab bercadar, burqa dan niqab, yang dikenakan oleh perempuan Muslim, setelah sebagian besar partai di Parlemen Denmark mendukung larangan penutup wajah atau semacamnya, dilansir dari Daily Sabah.

Baca juga :
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja | Pusat Kajian Muslimah Jogja
Mengenal Imam Muslim Seorang Ahli Hadits (Perowi = Periwayat) Yang Sangat Masyhur Di Samping Imam Bukhori
Pentingnya belajar bahasa inggris untuk seorang muslim


Jakob Ellemann-Jensen dari Partai Liberal Denmark yang memimpin koalisi pemerintahan beraliran kanan-tengah menegaskan bahwa rancangan undang-undang tersebut tidak ditujukan untuk agama-agama tertentu atau memberlakukan larangan jilbab, turban atau kippa, topi kepala tradisional Yahudi, paparnya saat berbicara pada hari Jumat setelah pertemuan di Parlemen Denmark.

Sebagian besar anggota parlemen, termasuk partai oposisi Sosial Demokrat – partai terbesar di Denmark – mengatakan bahwa pihaknya akan mendukung disahkannya undang-undang semacam itu, yang dikenal sebagai “Larangan Burqa.” Langkah ini  dinilai secara luas diarahkan pada pakaian yang dikenakan oleh muslimah ultra-konservatif. Hanya sebagian kecil muslimah di Denmark yang mengenakan jilbab bercadar atau burqa yang menutupi wajah.

Niqab menutupi semua bagian wajah kecuali mata, sementara burqa juga menutupi bagian mata namun dengan sebagian area jilbab yang transparan.

Perancis, Austria, Belgia, Belanda, Bulgaria dan negara bagian Bavaria di Jerman,  sebelumnya terlebih dahulu memberlakukan pembatasan dan larangan mengenakan jilbab bercadar, burqa maupun niqab di tempat-tempat umum.

“Ini bukan larangan pakaian religius, ini adalah larangan untuk melakukan masking (penutupan wajah),” pungkas Jacob Ellemann-Jensen, juru bicara Partai Liberal, saat berbicara dengan para wartawan Jumat dua pekan lalu setelah partainya, yang memimpin koalisi pemerintah, memutuskan untuk mendukung larangan tersebut.

Ini secara efektif berarti larangan niqab dan burqa sekaligus, imbuhnya. Sekitar 200 perempuan di Denmark mengenakan pakaian semacam itu, demikian menurut peneliti.

3 partai bersuara minoritas yang berkoalisi membentuk pemerintahan beraliran kanan-tengah, serta sekutunya Partai Rakyat Denmark [People Party] juga partai oposisi utama, yakni Partai Demokrat Sosial [Social Democrats], semuanya mengatakan bahwa mereka mendukung  larangan jilba bercadar, burqa, dan niqab, walaupun mereka masih membahas bagaimana larangan tersebut harus dirancang dan diterapkan.

“Akan ada larangan “masking” [penutupan wajah] di Denmark, begitulah adanya,” ungkap Menteri Luar Negeri Denmark Anders Samuelsen melalui akun Facebooknya.

Partainya, Aliansi Liberal, yang sebelumnya adalah salah satu penentang UU larangan [Burqa dan Niqab] yang paling gigih, yang sebelumnya menegaskan bahwa larangan tersebut membatasi kemampuan rakyat untuk secara bebas memilih pakaian mereka, sayangnya kini telah menyesuaikan sikap politiknya dengan partai koalisi lainnya, Konservatif dan Kaum Liberal.

“Jadi, jika secara praktis memungkinkan untuk disahknya larangan tersebut tanpa mengkhianati diri kami atau nilai kami sendiri, maka ‘Aliansi Liberal’ akan memilihnya,” tandas Samuelsen.

Partai Demokrat Sosial, yang merupakan partai terbesar di Denmark yang kini berperan sebagai partai oposisi, juga memberikan isyarat dukungannya secara prinsip untuk melarang pakaian seperti jilbab bercadar, burqa ataupun niqab, yang menurut mereka menindas perempuan.

“Kami siap untuk melarang burqa jika itu yang diperlukan … Tapi ada beberapa dilema, tidak sedikit yang berkaitan dengan bagaimana larangan tersebut diterapkan,” pungkas Pemimpin Partai Demokrat Sosial Mette Fredriksen saat debat di parlemen. pada hari Kamis.

Pemerintah Norwegia pada bulan Juni lalu telah mengajukan larangan jilbab bercadar bagi Muslimah di taman kanak-kanak, sekolah dan universitas.

Hingga kini belum ada tanggal pemungutan suara resmi terkait rancangan undang-undang larangan itu.

Austria, Prancis dan Belgia memiliki jenis hukum semacam itu yang melarang jilbab bercadar, burqa maupun niqab.

Pemakaian cadar wajah penuh dan sebagian seperti burqa dan niqab membelah pendangan di seluruh Eropa, menetapkan pendukung kebebasan beragama melawan para penganut ide sekuler serta mereka yang berpendapat bahwa pakaian semacam itu berasal dari budaya asing atau merupakan simbol penindasan terhadap perempuan.[IZ]

Sumber : panjimas.com

Mengenal Imam Muslim Seorang Ahli Hadits (Perowi = Periwayat) Yang Sangat Masyhur Di Samping Imam Bukhori



Imam Muslim adalah ahli hadits (perowi = periwayat) yang sangat masyhur di samping Imam Bukhori. Hadits-hadits yang diriwayatkannya mempunyai derajat yang tinggi sehingga digolongkan dalam hadits shohih. Ia mempelajari hadits sejak kecil dan bepergian untuk mencarinya keberbagai kota besar. Banyak sekali ulama hadits memujinya, Ahmad bin Salama berkata:” Abu Zur’ah dan Abu Hatim mendahulukan Muslim atas orang lain dalam bidang mengetahui hadits shahih.”
IMAM MUSLIM

Baca Juga :
Tempat Belajar Al-Quran Dewasa di Jogja
Pentingnya belajar bahasa inggris untuk seorang muslim
Cara Yang Paling Baik Untuk Mendakwahi Keluarga Yang Berbuat Syirik


Biografi Imam Muslim dari Biografi Web

Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Imam Muslim dilahirkan di Naisabur tahun 202 H atau 817 M. Naisabur, saat ini termasuk wilayah Rusia. Dalam sejarah Islam, Naisabur dikenal dengan sebutan Maa Wara’a an Nahr, daerah-daerah yang terletak di belakang Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah.


Sakana Food Depok www.sakana.id
Naisabur pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan tidak kurang 150 tahun pada masa Dinasti Samanid. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, kota Naisabur juga dikenal saat itu sebagai salah satu kota ilmu, bermukimnya ulama besar dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah.

Kecenderungan Imam Muslim kepada ilmu hadits tergolong luar biasa. Keunggulannya dari sisi kecerdasan dan ketajaman hafalan, ia manfaatkan dengan sebaik mungkin. Di usia 10 tahun, Muslim kecil sering datang berguru pada Imam Ad Dakhili, seorang ahli hadits di kotanya. Setahun kemudian, Muslim mulai menghafal hadits dan berani mengoreksi kekeliruan gurunya ketika salah dalam periwayatan hadits.

Seperti orang yang haus, kecintaanya dengan hadits menuntun Muslim bertuangalang ke berbagai tempat dan negara. Safar ke negeri lain menjadi kegiatan rutin bagi Muslim untuk mendapatkan silsilah yang benar sebuah hadits.

Dalam berbagai sumber, Muslim tercatat pernah ke Khurasan. Di kota ini Muslim bertemu dan berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Pada rihlahnya ke Makkah untuk menunaikan haji 220 H, Muslim bertemu dengan Qa’nabi,- muhaddits kota ini- untuk belajar hadits padanya.

Selain itu Muslim juga menyempatkan diri ke Hijaz. di kota Hijaz ia belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas ‘Abuzar. Di Irak Muslim belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Kemudian di Mesir, Muslim berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya. Termasuk ke Syam, Muslim banyak belajar pada ulama hadits kota itu.

Tidak seperti kota-kota lainnya, bagi Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah Imam Muhaddits ini berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama ahli hadits. Terakhir Imam Muslim berkunjung pada 259 H. Saat itu, Imam Bukhari berkunjung ke Naisabur. Oleh Imam Muslim kesempatan ini digunakannya untuk berdiskusi sekaligus berguru pada Imam Bukhari.

Berkat kegigihan dan kecintaannya pada hadits, Imam Muslim tercatat sebagai orang yang dikenal telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, menyebutkan, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan.

Bila dihitung dengan pengulangan, lanjutnya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sedang menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang ditulis dalam Shahih Muslim merupakan hasil saringan sekitar 300.000 hadits. Untuk menyelasekaikan kitab Sahihnya, Muslim membutuhkan tidak kurang dari 15 tahun.

Imam Muslim dalam menetapkan kesahihan hadits yang diriwayatkkanya selalu mengedepankan ilmu jarh dan ta’dil. Metode ini ia gunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Selain itu, Imam Muslim juga menggunakan metode sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat). Dalam kitabnya, dijumpai istilah haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarani (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), maupun qaalaa (ia berkata). Dengan metode ini menjadikan Imam Muslim sebagai orang kedua terbaik dalam masalah hadits dan seluk beluknya setelah Imam Bukhari.

Selain itu, Imam Muslim dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah. Keramahan yang dimilikinya tidak jauh beda dengan gurunya, Imam Bukhari. Dengan reputasi ini Imam Muslim oleh Adz-Dzahabi disebutan sebagai Muhsin min Naisabur (orang baik dari Naisabur).

Maslamah bin Qasim menegaskan, “Muslim adalah tsiqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam).” Senada dengan Maslamah bin Qasim, Imam An-Nawawi juga memberi sanjungan: “Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits.”

Seperti halnya Imam Bukhari dengan Al-Jami’ ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari, Imam Muslim juga memiliki kitab munumental, kitab Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih karya Imam Muslim lainnya, Shahih Muslim yang memuat 3.033 hadits memiliki karakteristik tersendiri. Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada penjabaran hadits secara resmi. Imam Muslim bahkan tidak mencantumkan judul-judul pada setiap akhir dari sebuah pokok bahasan.

Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.

Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Perbedaan ini terjadi bila dilihat dari sisi pada sistematika penulisannya serta perbandingan antara tema dan isinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an agar dapat dipastikan sanadnya bersambung. Sementara Imam Muslim menganggap cukup dengan “kemungkinan” bertemunya kedua rawi dengan tidak adanya tadlis.

Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsiqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Selain itu, kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding al-Bukhari.

Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar, Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya. Muslim juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab seperti yang dilakukan Bukhari lakukan. Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H dengan mewariskan sejumlah karyanya yang sangat berharga bagi kaum Muslim dan dunia Islam.

Akhir Hayat Imam Muslim

Setelah mengarungi kehidupan yang penuh berkah, Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan di makamkan di kampung Nasr Abad daerah Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun. Selama hidupnya, Muslim menulis beberapa kitab yang sangat bermanfaat

Para Guru Imam Muslim

Imam Muslim mempunyai guru hadits sangat banyak sekali, diantaranya adalah: Usman bin Abi Syaibah, Abu Bakar bin Syaibah, Syaiban bin Farukh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harab, ’Amar an-Naqid, Muhammad bin Musanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Sa’id al-Aili, Qutaibah bin sa’id dan lain sebagainya.

Murid yang meriwayatkan Haditsnya

Banyak para ulama yang meriwayatkan hadits dari Muslim, bahkan di antaranya terdapat ulama besar yang sebaya dengan dia. Di antaranya, Abu Hatim ar-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Awanah al-Isfarayini, Abi isa at-Tirmidzi, Abu Amar Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli, Abul Abbas Muhammad bin Ishaq bin as-Sarraj, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih az-Zahid. Nama terakhir ini adalah perawi utama bagi Shahih Muslim. Dan masih banyak lagi muridnya yang lain.

Pujian para Ulama Terhadap Imam Muslim

Apabila Imam Bukhari sebagai ahli hadits nomor satu, ahli tentang ilat–ilat (cacat) hadits dan seluk beluk hadits, dan daya kritiknya sangat tajam, maka Muslim adalah orang kedua setelah Bukhari, baik dalam ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidak mengherankan, karena Muslim adalah salah satu dari muridnya.

Al-Khatib al-Bagdadi berkata: “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya.” Pernyataan ini bukanlah menunjukkan bahwa Muslim hanya seorang pengikut saja. Sebab ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyusun kitab, serta memperkenalkan metode baru yang belum ada sebelumnya.

Imam Muslim mendapat pujian dari ulama hadis dan ulama lainnya. Al–Khatib al-Bagdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, katanya “Saya me-lihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Muslim bin al-Hajjaj dari pada guru-guru hadits lainnya.

Ishak bin Mansur al-Kausaj berkata kepada Muslim: “Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah menetapkan engkau bagi kaum muslimin.”

Ishak bin Rahawaih pernah mengatakan: “Adakah orang lain seperti Muslim?”. Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Muslim adalah penghafal hadits. Saya menulis hadits dari dia di Ray.” Abu Quraisy berkata: “Di dunia ini, orang yang benar-benar ahli hadits hanya empat orang. Di antaranya adalah Muslim.” Maksudnya, ahli hadits terkemuka di masa Abu Quraisy. Sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.
Kitab tulisan Imam Muslim

Imam muslim mempunyai kitab hasil tulisannya yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya:

Al-Jamius Syahih
Al-Musnadul Kabir Alar Rijal
Kitab al-Asma’ wal Kuna
Kitab al-Ilal
Kitab al-Aqran
Kitab Sualatihi Ahmad bin Hanbal
Kitab al-Intifa’ bi Uhubis Siba’
Kitab al-Muhadramain
Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahidin
Kitab Auladus Sahabah
Kitab Auhamul Muhadisin.
Kitabnya yang paling terkenal sampai kini ialah Al-Jamius Shahih atau Shahih Muslim.

Sumber : bio.or.id

Minggu, 15 Oktober 2017

Pentingnya belajar bahasa inggris untuk seorang muslim



Bahasa Inggris Bermanfaat?

Bahasa Inggris merupakan ilmu dunia yang bermanfaat di zaman ini karena merupakan salah satu bahasa internasional. Tentu jika gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat misalnya untuk berdakwah dan menyebarkan Islam secara internasional, juga bisa bermanfaat dalam mempelajari ilmu-ilmu bermanfaat yang mayoritas sumbernya berbahasa Inggris.

Hukum Mempelajari Bahasa Inggris dalam Islam

Ilmu dunia atau hal yang mubah merupakan wasilah/sarana, jika kita niatkan atau gunakan untuk kebaikan, maka hal mubah tersebut akan mendapatkan pahala. Sebagaimana kaidah fikhiyyah:

الوسائل لها أحكام المقاصد

“Hukum wasilah/sarana sesuai dengan hukum tujuan/niatnya.”

Bahasa Inggris termasuk hal yang bermanfaat. Hendaknya kaum muslimin yang ingin memanfaatkannya bersemangat mempelajari bahasa Inggris. Ini adalah perintah agama agar kita bersemangat dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 ﺍِﺣْـﺮِﺹْ ﻋَـﻠَـﻰ ﻣَﺎ ﻳَـﻨْـﻔَـﻌُـﻚَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَـﻌْﺠَـﺰ

“Bersungguh-sungguhlah (bersemangatlah) untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.” (HR. Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu  menjelaskan bahwa jika itu merupakan satu-satunya wasilah dakwah saat itu dan di tempat itu, maka wajib hukumnya mempelajari bahasa Inggris. Beliau ditanya:

وسئل فضيلة الشيخ : عن حكم تعلم اللغة الإنجليزية في الوقت الحاضر؟

“Apa hukum mempelajari bahasa Inggris sekarang ini?”.

فأجاب فضيلته: بقوله: تعلمها وسيلة، فإذا كنت محتاجاً إليها كوسيلة في الدعوة إلى الله فقد يكون تعلمها واجباً ، وإن لم تكن محتاجاً إليها فلا تشغل وقتك بها واشتغل بما هو أهم وأنفع، والناس يختلفون في حاجتهم إلى تعلم اللغة الإنجليزية

Beliau menjawab,  “Mempelajarinya adalah wasilah/sarana, jika engkau membutuhkannya sebagai wasilah berdakwah kepada Allah, maka hukumnya wajib, jika engkau tidak membutuhkannya maka janganlah engkau menyibukkan waktumu dengannya, sibukkanlah dirimu dengan yang lebih penting dan bermanfaat, dan manusia berbeda-beda kebutuhannya terhadap bahasa Inggris.” (Kitabul ilmi hal 93, Darul itqan Al Iskandariyah).

Bahkan syaikh Al-Utsaimin rahimahullah  berandai-andai bisa berbahasa Inggris untuk berdakwah. Beliau berkata:

ﻭﺃﻧﻲ ﺃﺗﻤﻨﻰ ﺃﻥ ﺃﻋﺮﻑ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻠﻐﺔ , ﻷﻧﻲ ﻭﺟﺪﺕ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﻛﺒﻴﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ

“Aku sendiri berangan-angan, andai saja aku bisa menguasai bahasa Inggris.  Sungguh, aku melihat terdapat manfaat yang amat besar untuk dakwah kepada Allah.” (Liqa’ Al Bab Al Maftuh kaset no. 61)

baca juga : dimanakah tempat belajar islam untuk wanita di jogja?

Demikian juga praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memerintahkan sahabatnya mempelajari bahasa lainnnya agar memudahkan untuk berdakwah. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untik mempelajari bahasa kitab kaum Yahudi.

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu berkata,

ﺃَﻣَﺮَﻧِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺘَﻌَﻠَّﻤْﺖُ ﻟَﻪُ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﻳَﻬُﻮﺩَ، ﻭَﻗَﺎﻝَ : ‏« ﺇِﻧِّﻲ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺁﻣَﻦُ ﻳَﻬُﻮﺩَ ﻋَﻠَﻰ ﻛِﺘَﺎﺑِﻲ ‏» ﻓَﺘَﻌَﻠَّﻤْﺘُﻪُ، ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻤُﺮَّ ﺑِﻲ ﺇِﻟَّﺎ ﻧِﺼْﻒُ ﺷَﻬْﺮٍ ﺣَﺘَّﻰ ﺣَﺬَﻗْﺘُﻪُ، ﻓَﻜُﻨْﺖُ ﺃَﻛْﺘُﺐُ ﻟَﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺘَﺐَ ﻭَﺃَﻗْﺮَﺃُ ﻟَﻪُ، ﺇِﺫَﺍ ﻛُﺘِﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahakan aku, lalu aku mempelajari kitab kaum yahudi untuk beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sungguh aku –demi Allah- tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”. Maka akupun mempelajari bahasa yahudi, dan tidak sampai setengah bulan maka aku telah menguasai bahasa tersebut. Maka akupun menulis untuk Nabi jika beliau menulis, dan aku membacakan untuk beliau jika ada tulisan dikirim kepada beliau” (HR Abu Dawud no 3645 dan dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani sebagai Hasan Shahih)

Semoga dakwah Islam semakin berkembanga ke seluruh dunia.

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel: Muslim.or.id

Cara Yang Paling Baik Untuk Mendakwahi Keluarga Yang Berbuat Syirik



Pertanyaan: Bagaimana cara mendakwahi keluarga yang berbuat syirik?

Sebagian ikhwah memiliki problematika dengan sebagian keluarganya, yaitu ayah, ibu, paman atau kerabat mereka, mereka melakukan kesyirikan yang berupa syirik akbar. Semisal berdoa kepada selain Allah, istighatsah kepada selain Allah, tawakkal kepada selain Allah, mencela Allah Ta’ala atau mencela ajaran agama, namun mereka tidak mau menerima nasehat, bagaimana nasehat anda tentang hal ini? Perlu diketahui bahwa ketika nasehat diberikan, terkadang akan timbul fitnah (masalah) besar antara para ikhwah tersebut dan keluarganya. Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.


Jawaban:

Membekali Diri Dengan Ilmu Aqidah yang Benar


Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah menjawab:

الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاةُ والسلام على مَنْ أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، أمَّا بعد


Orang yang melakukan syirik akbar itu berhak mendapatkan kemurkaan dari Allah, dan bara’ah (kebencian) yang mutlak yang tidak ada rasa cinta dan loyalitas terhadap mereka. Karena aqidah al wala wal bara (cinta kepada ahli iman dan benci kepada ahli syirik) adalah tali keimanan yang paling kuat. Dan tali penghubung yang menjadi pondasi dari bangunan masyarakat Muslim. Ia juga merupakan konsekuensi dan syarat sah dari syahadat. Allah Ta’ala berfirman:

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡ


“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al Mujadalah: 22).


Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ


“tidak beriman salah seorang diantara kalian, sampai aku menjadi yang paling ia cintai daripada kedua orang tuanya dan anaknya dan seluruh manusia” (HR. Bukhari no.15, Muslim no.44).


Berlepas Dirilah Dari Kesyirikan yang Dilakukan Keluarga


Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam untuk berlepas diri dari keluarganya dan apa yang mereka lakukan, jika itu bertentangan dengan perintah Allah. Dalam firman-Nya:

أَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ  وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  فَإِنۡ عَصَوۡكَ فَقُلۡ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ


“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”” (QS. Asy Syu’ara: 216).

Berlepas DIri Dengan Adab dan Akhlak yang Baik Terhadap Keluarga


Namun sikap berlepas diri dari perbuatan mereka yang buruk tersebut tidak berarti mengharuskan kita berkata dan berbuat yang buruk kepada mereka. Bahkan wajib atas setiap Muslim untuk mendakwahkan keluarganya, orang tuanya, dan kerabatnya kepada Allah dengan cara yang baik. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَذَكِّرۡ إِن نَّفَعَتِ ٱلذِّكۡرَىٰ


“Berilah peringatan jika memang peringatan itu bermanfaat” (QS. Al A’laa: 9).


Berlepas diri dari orang tua yang musyrik bukan berarti menjauhi dan meninggalkan mereka, bahkan tetap membersamai mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Berdasarkan yang ditunjukkan dalam firman Allah Ta’ala:

إِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗا


“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik” (QS. Luqman: 15).


Dan sikap kepada para kerabat yang musyrik pun sebagaimana sikap kita kepada orang tua yang musyrik tersebut. Mereka tetap memiliki hak silaturahmi, hak nafkah, dan hak untuk dipergauli dengan baik. Berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ﴾


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu” (QS. An Nisa: 36).

Tegaslah Dalam Memberikan Batas Toleransi


Namun pergaulan yang baik terhadap mereka tidak boleh sampai level memberikan dukungan kepada kekufuran mereka, atau kepada pelaku kekufuran atau memberikan persetujuan atas hal itu. Terlebih lagi jika mereka memusuhi Islam, maka hukumnya haram (memberikan dukungan). Bahkan hal itu bisa menyebabkan kekufuran terhadap Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

مَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡ


“Barangsiapa loyal kepada mereka (Musyrikin) maka ia bagian dari mereka” (QS. Al Maidah: 51).


Selain itu juga, hendaknya dalam berdakwah para ikhwah menggunakan metode yang lemah lembut. Hindari sikap kaku dan kasar dalam berdakwah. Hindari sikap keras yang membuat orang lari dari agama. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An Nahl: 125).

Utamakan Metode Dakwah yang Lemah Lembut


Karena metode dakwah lemah lembut inilah yang menjadi sebab terbesar tersampaikannya dakwah dan bimbingan para du’at kepada orang-orang awam. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ


“Jika ada satu orang yang mendapatkan hidayah dari Allah oleh sebab dakwahmu, itu lebih baik dari pada engkau mendapatkan unta merah” (HR. Bukhari no. 3009, Muslim no. 2406).

والعلم عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على نبيِّنا محمَّدٍ وعلى آله وصحبِه وإخوانِه إلى يوم الدِّين، وسلَّم تسليمًا.


***


Sumber: Tautan


Penerjemah: Yulian Purnama